PERNIKAHAN

           
     
   
 
 
     

 

 

 

 

IFTITAH

Islam adalah agama rahmatan lil’alamin. Sebagai agama fitrah, Islam mengatur  tata hubungan antar sesama umatnya. Termasuk dalam hal ini adalah hubungan  manusia dengan sesamanya yang terikat dalam tali ikatan perkawinan. Pernikahan adalah salah satu karunia yang baik, sebagaimana firman Allah dalm Al-Qur’an :

 

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”(Q.S. An-Nahl/16 : 72)

Islam menganjurkan manusia untuk menikah, karena nikah itu mempunyai pengaruh yang baik bagi pelakunya sendiri, masyarakat maupun seluruh umat manusia.Nikah inilah jalan yang alami dan penyaluran biologis yang baik dan sesuai. Dengan nikah jasmani menjadi segar bugar, jiwa menjadi tenang, mata terpelihara dari melihat yang haram, dan perasaan menjadi tenang menikmati perbuatan yang halal. Nikah mewadahi naluri kebapakan dan keibuan akan tumbuh saling melengkapi dalam satu hidup dengan anak-anak dan akan tumbuh perasaan–perasaan ramah, cinta dan kasih sayang yang merupakan sifat baik yang menyempurnakan kemanusiaan seseorang.

 

Nikah merupakan jalan yang paling bermanfa’at dan paling afdhal dalam upaya merealisasikan dan menjaga kehormatan, karena dengan nikah inilah seseorang bisa terjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong untuk mempercepat nikah, mempermudah jalan untuknya dan memberantas kendala-kendalanya.

Nikah merupakan jalan fitrah yang bisa menuntaskan gejolak biologis dalam diri manusia, demi mengangkat cita-cita luhur yang kemudian dari persilangan syar’i tersebut sepasang suami istri dapat menghasilkan keturunan, hingga dengan perannya sebagai kholifah dan bertugas memakmurkan bumi.

Manusia adalah makluk yang sempurna dan mempunyai peradaban yang sangat tinggi.Agar kelangsungan hidupannya berkembang dengan baik, maka manusia harus menurunkan generasi dengan jalan perkawinan, agar keturunannya menjadi mulia serta memelihara nasab.  Pembahasan di bawah ini menyangkut hal-hal yang ada kaitannya dengan nikah, yaitu hukum nikah, syarat dan rukunya nikah, pernikahan terlarang, mahar, walimahan serta hak dan kewajiban suami istri

 

 
   

 

 

 

 

A.    PENGERTIAN DAN HUKUM NIKAH

 

  1. Pengertian Nikah

Kata Nikah(نِكَاحُ)  atau pernikahan sudah menjadi kosa kata dalam bahasa Indonesia, sebagai padanan kata perkawinan (زَوْج).Nikah artinya suatu akad yang menghalalkan pergaulan antara seseorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dan menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya.

 

Dalam pengertian yang luas, pernikahan adalah merupakan suatu ikatan lahir dan batin antara dua orang laki-laki  dan perempaun, untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga untuk mendapatkan keturunan yang dilaksanakan  menurut ketentuan syariat Islam.

 

Pergaulan antara laki-laki dan perempuan itu menjadi syah/halal jika sudah terikat tali ikatan perkawinan. Tanpa adanya perkawinan, tidak akan pernah ada proses saling melengkapi dalam kehidupan ini antara laki-laki dan perempuan.

 

  1. Hukum Pernikahan

 

Berbicara hukum perkawinan, maka tidak akan terlepas lima macam tingkatan hukum dalam Islam yang disebut “ Al-Ahkamul Khomsah “, yaitu wajib, sunah, mubah, makruh dan haram. Berdasarkan keadaan, maka hokum nikah dapat berubah sesuai dengan niat seseorang yang akan melangsungkan perkawinan.

Pada dasarnya pernikahan itu diperintahkan atau dianjurkan oleh Syar’i Firman Allah SWT :

 

 Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(QS. An Nisa/4: 3)

 

 

 

 

 

 

Dalam hal ini Rasulullah juga bersabda :

 

عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضيَ اللهُ عَنْهُ : اَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَمِدَ اللهُ وَاَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ : لَكِنِّى اَنَا اُصَلِّى وَاَنَامُ وَاَصُوْمُ وَاُفْطِرُ وَاَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَتِى فَلَيْسَ مِنِّى ( رواه البخارى مسلم )

 

Dari Anas bin Malik ra. bahwasanya  Nabi SAW memunji Allah dan menyanjungnya, beliau bersabda : “Akan tetapi aku shalat, aku tidur, aku berpuasa, aku makan, dan aku mengawini perampuan, barang siapa yang tidak suka perbuatanku, maka bukanlah dia dari golonganku (Bukhari Muslim)

 

Menurut jumhur ulama menetapkan bahwa hukum perkawinan dibagi menjadi limamacam yaitu :

Asal hukum pernikahan adalah sunah.Artinya seseorang yang telah mencapai kedewasaan jasmani dan rohani dan sudah mempunyai bekal untuk menikah, tetapi tidak takut terjerumus dalam perbuatan zina.

Firman Allah :

Artinya : “Dan kawinilah orang yang sendirian (janda) di antara kamu dan hamba sahaya laki-laki dan permpuan yang patut” (QS. An Nur /24 :32)

 

Sabda Rasulullah :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَاَحْصَنُ لِلْفَرْجِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ  فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ( رواه البخارى و مسلم )

Artinya : “Hai kaum pemuda, apabila diantara kamu kuasa untuk kawin, maka kawinlah,. Sebab kawin itu lebih kuasa untuk menjaga mata dan kemaluan, dan barangsiapa tidak kuasa hendaklah ia berpuasa, sebab puasa itu jadi penjaga baginya (HR. Bukhari dan muslim)

 

Hukum yang kedua adalah mubah (boleh), yaitu bagi orang yang tidak mempunyai pendorong atau faktor yang melarang untuk menikah.

Sedangkan perkawinan dihukumi wajib, jika seseorang yang dilihat dari pertumbuhan jasmaniyah sudah layak untuk menikah, kedewasaan rohaniyahnya sudah matang dan memiliki biaya untuk menikah serta untuk menghidupi keluarganya dan bila ia tidak menikah khawatir terjatuh pada perbuatan mesum (zina).

Makruh hukumnya bagi seseorang yang dipandang dari pertumbuhan jasmaniyahnya sudah layak, kedewasaan rohaniyahnya sudah matang tetapi tidak mempunyai biaya untuk bekal hidup beserta isteri kemudian anaknya. Untuk mengendalikan nafsunya dianjurkan untuk menjalankan puasa.

Haram hukumnya bagi seseorang yang menikahi wanita dengan tujuan untuk menyakiti, mempermainkan dan memeras hartanya.

 

 

  1. B.      PERSIAPAN PELAKSANAAN PERNIKAHAN

 

  1. Meminang atau Khitbah

 

Sebelum seseorang melangsungkan perkawinan, biasanya diawali terlebih dahulu dengan lamaran dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebagai langkah awal persiapan untuk pernikahan. Lamaran atau pinanangan bukan sesuatu yang menjadi wajib hukumnya. Hal ini menurut pendapat jumhur ulama’ yang didasarkan pada pinangan nikah yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw. Tetapi Dawud berpendapat bahwa pinangan hukumnya wajib.

 

Khitbah/pingangan yaitu melamar untuk menyatakan permintaan atau ajakan untuk mengikat perjodohan, dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan sebagai calon isterinya.

Dalil yang membolehkan pinangan sebagaimana firmanAllah SWT :

 

Artinya : “Dan tak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran yang baik atau harus menyembunyikan keinginan mengawini mereka dalam hatimu … “(QS. Al Baqarah /2: 235)

 

  1. Cara mengajukan pinangan

 

Cara mengajukan pinangan kepada gadis atau janda menurut ajaran Islam dengan dua cara, yaitu : pinangan kepada gadis atau janda yang sudah habis masa iddahnya dinyatakan secara terang-terangan. Artinya bahwa perempuan yang dipinang akan dijadikan istrinya dengan berbicara langsung padanya.

Sedangkan pinangan kepada janda yang masih ada dalam masa iddah thalaq bain atau ditinggal mati suami, tidak boleh dinyatakan secara terang-terangan. Pinangan kepada mereka hanya boleh dilakukan secara sindiran saja.

 

3. Perempuan yang boleh dipinang

 

Perempuan-perempuan yang boleh dipinang itu ada beberapa macam, yaitu : perempuan yang bukan istri orang, bukan dalam masa iddah, bukan pula dalam pinangan orang lain, boleh dipinang dengan sindiran atau terus terang, sebagaimana sabda nabi SAW :

لاَ يَحْطُبُ اَحَدَكُمْ عَلَى خِطْبَةِ اَخِيْهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ اَوْ يَأْذَنَ لَهُ

 ( روه البخارى و مسلم )

Artinya “Janganlah salah saeorang diantara kamu meminang atas pinangan saudaranya, kecuali pinangan sebelumnya meninggalkan pinangan itu atau memberikan ijin kepadanya (HR.Bukhari dan Muslim)

   

Sedangkan perempuan yang tidak boleh dipinang, baik secara sindiran apalagi dengan cara terus terang yaitu perempuan dalam status istri orang lain atau masih dalam iddah raj’i.

Adapun perempuan yang bukan dalam iddah raj’i boleh dipinang yaitu : perempuan yang dalam iddah wafat boleh dipinang dengan sindiran tetapi tidak dengan terus terang, perempuan beriddah thalaq tiga (bain kubra) dan perempuan yang beriddah karena thalaq bain sughra atau karena sebab fasakh.

Haram hukumnya meminang perempuan yang telah dipinang orang lain, jika perempuan itu telah menerima pinangannya dan walinya dengan terang-terangan telah mengijinkannya. Tetapi jika perempuan yang telah dipinang orang lain itu jelas menolaknya, maka boleh ia meminang perempuan tersebut.

 

Mengenai pinangan atas pinangan orang lain, larangan terhadap hal ini telah diriwayatkan dengan shahih dari Nabi Saw. Kemudian fuqaha berselisihberpendapat , apakah larangan tersebut menunjukkan rusaknya perbuatan yang dilarang atau tidak ?.Jika menunjukkan rusaknya perbuatan tersebut, maka dalam kondisi bagaimanakah dapat berlaku ?

Dawud berpendapat bahwa perkawinan batal. Syafi’I dan Abu Hanifah tidak batal. Ibnul Qayim berpendapat, maksud laranmgan tersebut, jika seorang yang shaleh menmeminang di atas pinangan orang yang shaleh pula. Sedang apabila meminang pertama tidak baik, sedangkan peminang kedua baik, maka pinangan semacam ini dibolehkan.

 

  1. Melihat calon isteri atau suami

 

Melihat perempuan yang akan dinikahi dianjurkan bahkan disunnahkan oleh agama. Karena meminang istri merupakan pendahuluan pernikahan. Sedangkan melihat calon isteri untuk mengetahui penampilan dan kecantikannya dipandang perlu untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang bahagia.

Ada beberapa pendapat tentang batas kebolehan melihat seorang perempuan yang akan dipinang .Jumhur ulama berpendapat boleh melihat wajah dan kedua telapak tangan, karena dengan demikian akan dapat diketahui kehalusan tubuh dan kecantikannya.

Menurut Abu Dawud berpendapat boleh melihat seluruh badan, karena dengan melihat seluruhnya seseorang dapat mengetahui bahwa calon istrinya itu termasuk wanita baik, dari segi fisik dan juga kecantikannya. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah membolehkan melihat dua telapak kaki, muka dan telapak tangan.

Mughirah bin Syu’ban telah meminang seorang perempuan, kemudian Rasulullah bertanya kepadanya ,Apakah engkau telah melihatnya? Mughirah berkata “Belum” Rasulullah bersabda :

اُنْظُرْ اِلَيْهَا فَاِنَّهُ اَحْرَى أَنْ يُؤْدِمَ بَيْنَكُمَا ( رواه الترمذى )

Artinya : Amat-amatilah perempuan itu, karena hal itu akan lebih membawa kepada kedamaian dan kemesrasaan kamu berdua” (H.R. Thurmudzi)

 

Silang pendapat ini disebabkan dalam persoalan ini terdapat suruhan untuk melihat wanita secara mutlak, terdapat pula larangan secara mutlak, dan ada pula suruhan yang bersifat terbatas, yakni pada muka dan dua telapak tangan, berdasarkan pendapat kebanyakan ulama berkenaan dengan firman Allah :

 Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. ( Q.S. An-Nur/24 : 31 )

 

  1. Mahram atau Perempuan yang haram dinikahi

 

Mahram adalah seseorang, baik laki-laki maupun perempuan yang haram dinikahi. Adapaun sebab-sebab yang menjadikan seorang perempuan menjadi haram dinikahi oleh seseorang laki-laki dapat dabagi menjadi dua yaitu  haram dinikahi untuk selamanya dan haram dinikahi yang bersifat sementara, sebagaimana pembahasan berikut di bawah ini.

 

 

  1. Sebab haram dinikah untuk selamanya, dibagi menjadi empat macam yaitu haram sebab nasab, sebab pertalian nikah, sebab sepersusuan dan wanita yang telah dili’an. Adapun pembahasannya sebagai berikut :

1)      Wanita-wanita yang haram dinikahi karena nashab. Mereka adalah sebagai berikut : Ibu, Nenek, Anak perempuan, Anak perempuan dari anak laki-laki, Saudara perempuan,Bibi dari jalur ayah, Bibi dari jalur ibu, Anak perempuannya saudara laki-laki, Anak perempuannya anak laki-laki.

 

“Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian, naka-anak  perempuan kalian, saudara-saudara perempuan kalian, saudara-saudara perempuan bapak kalian, (bibi jalur ayah), saudara-saudara permpuan ibu kalian (bibi daru jalur ibu) anak-anak perempuannya saudara-saudara laki-laki kalian, anak-anak perempuannya saudara perempuan kalian “ (Q.S. An Nisa /4: 23)

 

2)      Wanita-wanita yang haram dinikahi sebab pertalian nikah, mereka adalah sebagai berikut : Isteri ayah dan Istri kakek.  Allah SWT berfirman :

 

 Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).(QS. An Nisa/4 : 22)

 

Kemudian Ibu Istri (ibu mertua) dan nenek ibu istri, Anak perempuan istri (anak perempuan tiri).  Allah SWT berfirman :

 Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu (QS.An Nisa/4: 22 ).

 

3)      Wanita-wanita yang haram dinikahi karena sepersusuan. Mereka adalah sebagai berikut : Ibu-ibu yang diharamkan dinikahi karena sebab nashab, Anak-anak perempuan, Saudara-saudara perempuan,  bibi dari jalur ayah,  bibi dari jalur ibu, Anak perempuannya saudara laki-laki dan Anak perempuannya saudara perempuan.

4)      Wanita yang telah di li’an

Suami haram menikahi wanita yang telah dili’annya untuk selama-lamanya, karena Rasulullah SAW bersabda :

اَلْمُتَلاَعِنَانِ إِذَا تَفرَّقَا لاَ يَجْتَمِعَانِ أَبَدًا( رواه ابوداود )

Artinya : “ Suami Isteri yang telah melaknat, jika keduanya telah cerai maka tidak boleh menikahi lagi selama-lamanya”  (HR. Abu Dawud)

 

  1. Sebab Haram dinikah sementara

 

Haram dinikahi sementara maksudnya adalah seorang perempuan menjadi haram dinikahi oleh seorang laki-laki dalam waktu tertentu. Bila sebab itu tidak ada lagi perempuan tersebut boleh dinikahi, sebab-sebab tersebut dibagi menjadi lima macam  yaitu ; sebab pertalian nikah, thlaq bain kubra, memadu dua orang bersaudara, beristri lebih dari empat orang dan berbeda agama.

1)      Sebab Pertalian Nikah

Perempuan yang masih ada dalam ikatan perkawinan, haram dinikah dengan laki-laki lain, termasuk perempuan yang masih ada dalam massa idah baik iddah talak maupun iddah wafat : Allah SWT berfirman :

 

Artinya : “Janganlah kamu bertekad untuk melangsungkan akad nikah dengan perempuandalam iddah wafat sebelum iddahnya habis”. (QS. Al Baqarah/4 : 235)

 

2)      Sebab Thalaq Bain Kubra (perceraian sudah  tiga kali) 

Thalaq bain kubra adalah thalaq tiga. Sorang laki-laki yang mencerai isteri dengan thalaq tiga, haram baginya untuk menikah dengan mantan isterinya itu selama mantan isteri itu belum kawin dengan laki-laki lain. Jelasnya ia boleh menikah lagi dengan mantan isterinnya dengan syarat mantan istri itu : telah menikah dengan laki-laki lain (suami baru),dicampuri oleh suami baru , telah dicerai suami baru, dan habis masa iddah.

Allah berfirman :

 “Selanjutnya jika suami mencerainya (untuk ketiga kalinya), perempuan tidak boleh dinikahi lagi olehnya sehingga ia menikah lagi dengan  suami lain. Jika suami yang baru telah mencerainya, tidak apa-apa mereka (mantan suami isteri) menikah lagi jika keduanya optimis melaksanakan hak masing-masing sebagaimana ditetapkan oleh Allah SWT (Al- Baqarah/2 : 230)

 

3)      Sebab memadu dua orang perempuan bersaudara.

Seorang laki-laki yang mempunyai pertalian nikah dengan seorang perempuan (termasuk dalam masa iddah talak raj’i) haram baginya menikah dengan :

a)      Saudara perempuan isterinya, baik kandung seayah maupun seibu

b)      Saudara perempuan ibu isterinya (bibi istri) baik kandung seayah ataupun kandung seibu dengan ibu isterinya.

c)      Saudara perempuan bapak isterinya (bibi isterinya) baik kandung seayah atupun seibu dengan bapak isterinya.

d)      Anak perempuan saudara permpuan isterinya (kemenakan isterinya) baik kandung seayah maupun seibu

e)      Anak perempuan saudara laki-laki isterinya baik kandung seayah maupun seibu

f)       Semua perempuan yang bertalian susuan dengan isterinya Allah SWT berfirman:

Diharamkan bagimu memadu dua orang  permpuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. (QS. An Nisa/4 : 23)

 

4)      Sebab beristri  lebih dari empat orang.

Seorang laki-laki yang beristri lebih dari empat orang, haram lagi menikah dengan perempuan yang kelima. Seorang laki-laki boleh memperistri perempuan maksimal empat. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT. dalam al-Qur’an surat An-Nisa’ : 3

 

5)      Sebab Perbedaan Agama

Mahram nikah karena perbedaan agama, ada dua macam  yaitu perempuan musyrik haram dinikahi laki-laki muslim dan perempuan muslimah haram dinikahi laki-laki non muslim, yaitu orang musyrik atau penganut agama selain islam.

 

 

 

 

  1. Prinsip Kafaah Dalam Pernikahan

 

Sebelum seseorang melangsungkan perkawinan, ada sesuatu yang biasanya dijadikan acuan untuk menikahi seseorang. Dalam istilah fiqih Islam dikenal kafaah atau kufu artinya kesamaan, kecocokan dan kesetaraan. Dalam kontek pernikahan berarti adanya kesamaan atau kesetaraan antara calon suami dan calon isteri dalam segi (keturunan), status sosial (jabatan, pangkat) agama (akhlak) dan harta kekayaan.

Kafaah adalah hak perempuan dari walinya. Jika seseorang perempuan rela menikah dengan seorang laki-laki yang tidak sekufu, tetapi walinya tidak rela maka walinya berhak mengajukan gugatan fasakh (batal). Demikian pula sebaliknya apabila gadis shalihah dinikahkan oleh walinya dengan laki-laki yang tidak sekufu dengannya, ia berhak mengajukan gugatan fasakh. Kafaah adalah hak bagi seseorang. Karena itu  jika yang berhak itu rela tanpa adanya kafaah pernikahan dapat diteruskan.

Beberapa pendapat tentang hal-hal yang dapat diperhitungkan dalam kafaah, yaitu: sebagian ulama mengutamakan bahwa kafaah itu diukur dengan nasab (keturunan), kemerdekaan, ketataan, agama, pangkat pekerjaan/profesi  dan kekayaan. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa kafaah itu diukur dengan ketataan menjalankan agama. Laki-laki yang tidak patuh menjalankan agama tidak sekufu dengan perempuan yang patuh menjalankan agamanya. Laki-laki yang akhlaknya buruk tidak sekufu dengan perempuan yang akhlaknya mulia.

Kemudian bagaimana jika kafaah atau kufu ditinjau dari segi agama?. Firman Allah SWT :

 

Janganlah kaui nikahi wanita-wanita musyrik sehingga mereka beriman, dan sungguh budak yang beriman itu lebih baik daripada wanita-wanita musyrik, sekali pun ia sangat menggiurkanmu.. (Qs. Al Baqarah/2: 221)

 

Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa orang yang sekufu dinilai dari seseorang itu sama-sama beriman orang yang musyrik tidak sekufu dengan yang beriman.

Adapun kufu’ dilihat dari segi iffahartinya terpelihara dari segala yang haram dalam pergaulan. Maka bukan dianggap sepadan sekufu bagi orang yang dari keturunan yang baik-baik, menikah dari orang  yang keturunan pezina, walaupun masih seagama. Allah SWT berfirman :

 

Artinya : “Laki-laki yang berzina tidak boleh menikahi dengan siapapun, kecuali dengan wanita yang berzina atau wanita musyrik, dan wanita yang berzina siapapun tidak boleh menikahinya, kecuali laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan demikian yang diharamkan atas orang-orang yang beriman”. (QS. An Nur/24 : 3)

 

 

 

  1. Syarat dan Rukun Nikah
 
   

 

 

Perkawinan dapat terjadi jika memenuhi dua kreteria, yaitu terpenuhinya syarat dan rukunnya. Rukun nikah adalah unsur pokok yang harus dipenuhi untuk menjadi sahnya suatu pernikahan, suatu sistem kehidupan sosial yang sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan umat manusia di jagad raya ini. Perkawinan tidak syah, jika rukunnya tidak terpenuhi. Sedangkan syarat merupakan sesuatu yang harus ada, akan tetapi syahnya perkawinan tidak tergantung padanya.

Adapun rukun nikah ada lima macam, yaitu : calon suami, calon istri, wali, dua orang saksi dan ijab qabul. Sedangkan syarat-syarat pernikahan sebagaimana pembahasan berikut ini :

 

  1. Calon suami. Memilih calon suami yang baik merupakan kewajiban bagi wali calon mempelai wanita. Seorang wanita apabila hendak memilih calon suami hendaknya mengutamakan agamanya dan akhlaknya yang mulia, sebelum memperhatikan yang lainnya. Sebagaimana sabda Nabi SAW. :

 

اِذَاجاَءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْـنَهُ وَخُلُقَهُ فُزَوِّجُوْهُ اِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْـنَةٌ فِى اْلاَرْضِ وَفَسَـادٌ عَرِيـضٌ ( رواه الترمذى )

“ Bila ada seorang dating melamar, dan kamu senang dengan agama dan akhlaknya, maka kawinlah dengannya, jika tidak kamu, akan terjadi fitnahdan kerusakan dimuka bumi ini. ( H.R. Tirmidzi )

 

Syarat-syarat calon suami menurut ketentuan syari’at Islam adalah : beragama Islam, jelas bahwa ia laki-laki, atas keinginan dan pilihan sendiri (tidak terkena paksaan), tidak beristri empat (termasuk istri yang telah dicerai tetapi dalam  masa iddah / waktu tunggu), tidak mempunyai hubungan mahram dengan calon isteri,  tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan calon isterinya, mengetahui bahwa calon isteri itu tidak haram baginya dan tidak sedang berihram haji atau umrah.

 

 

  1. Calon isteri. Islam menganjurkan untuk memilih calon istri yang baik ada beberapa kreteria yang harus diperhatikan seorang laki-laki agar pilihannya sesuai dengan ajaran agama. Adapun kreteria memilih calon istri yang baik sebagaimana telah digariskan oleh Rasulullah SAW. dalam hadits sebagai berikut :

تُنْكَحُ اْلمَرْأَةُ لاَِرْبَعٍ : لِمـاَ لِهَا وَلِحَسَـا بِهَاوَلِجَمَلِـهَاوَلِدِيْنِهَا فَظْفُرْ بِذَاتِ الدِّيْنِتَـرِبَتْ يَدَاكَ ( رواه البجارى ومسلم)

“Memilih wanita yang hendak dinikahiitu hendaknya mencakup kreteria: karena hartanya, karena ( kemuliaan) keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka beruntunglah yang memilih wanita yang beragama; jika tidak, maka binasalah engkau” ( H.R. Bukhari-Muslim ).

 

Syarat-syarat calon istri  yang akan dinikahi adalah :beragama Islam, jelas bahwa ia serang perempuan, telah mendapat ijin dari walinya, tidak bersuami dan tidak dalammasa iddah, tidak mempunyai hubungan mahram dengan calon suami, belum pernah di li’an (dituduh zina) oleh calon suaminya, jika ia perempuan janda, harus atas kemauan sendiri, bukan karena dipaksa oleh siapapun, jelas ada orangnya dan tidak sedang ihram haji atau umrah.

 

  1. Wali, syaratnya : laki-laki, beragama Islam, sudah baligh, berakal, merdeka (bukan budak), adil dan tidak sedang melaksanakan ihram haji atau umrah.

 

  1. Dua orang saksi, syaratnya : dua orang laki-laki, beragama islam, baligh, berakal, merdeka dan adil, bisa melihat dan mendengar, memahami bahasa yang digunkan dalam akad, tidak sedang mengerjakan ihram haji atau umrah dan hadir dalam ijab qabul.

 

  1. Ijab dan qabul. Ijab yaitu ucapan wali (dari pihak permpuan) atau wakilnya sebagai penyerahan kepada  pihak pengantin laki-laki. Sedangkan qabul yaitu ucapan pengantin laki-laki atau wakilnya sebagai tanda penerimaan.Adapaun syarat-syarat ijab qabul adalah sebagai berikut :

1)      Menggunakan kata yang bermakna menikah ( النَّكَاحُ) atau mengawinkan baik bahasa Arab ataupun padanan kata itu dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah sang pengantin.

2)      Lafadz ijab qabul diucapkan pelaku akad nikah

3)      Antara ijab dan qaul harus bersambung tidak boleh diselingi perkataan atau perbuatan lain.

4)      Pelaksanaan ijab dan qabul harus berada pada satu tempat tidak dikaitkan dengan suatu persyaratan apapun

5)      Tidak dibatasi dengan waktu tertentu.

 

  1. C.      WALI DAN SAKSI

 

Wali  dan saksi dalam pernikahan merupakan dua hal yang sangat menentukan sah atau tidaknya pernikahan. Ulama berselisih pendapat apakah wali menjadi syarat syahnya pernikahan atau tidak. Imam Malik dan Imam Syafi’I berpendapat bahwa tidak ada nikah tanpa wali, dan wali menjadi syarat syahnya nikah. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa apabila seorang perempuan melakukan akad nikahnya tanpa wali, sedang calon suami sebanding, maka nikahnya itu syah. Oleh karenanya keduanya harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana tersebut di atas. Rasulullah SAW bersabda :

 

عَنْ عَائِشَةَ ر.ض قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلم. أَيُّمَ امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيَّهَا فَنِكَحُهَا بَاطِلُ, فَاِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَاِنِ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيٌّ مَنْ لاَ وَلِيًّ بِهَا

“Dari ‘Aisyah ra. ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda, siapapun perempuan yang menikah dengan tidak seijin walinya maka batallah pernikahannya, dan jika ia  telah disetubuhi, maka bagi perempuan itu berhak menerima mas kawin lantaran ia telah menghalalkannya kemaluannya, dan jika terdapat pertengkaran antara wali-wali, maka sultanlah yang menjadi wali bagi yang tidak mempunyai wali.”

(HR. Imam yang empat kecuali Nasa’i)

 

  1. 1.      Wali Nikah

 

Seluruh madzab sepakat bahwa wali dalam pernikahan adalah wali perempuan yang melakukan akad nikah dengan pengantin laki-laki sesuai dengan pilihan perempuan itu. Peran wali dalam pernikahan sangat penting, karena merupakan rukun pnikah. Pernikahan tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya seorang wali dari pihak perempuan. Oleh karena itu kedudukan wali sangat penting, sebagaimana Sabda Rasul SAW :

لاَتُزَوَّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلاَ تُزَوَّجِ الْمَرْأةُ نَفْسَهَا رواه ابن ماجة و الدرقطنى )

Artinya : “Janganlah seorang perempuan menikahkan perempuan lain, dan jangan pula ia menikahkan dirinya sendiri (HR. Ibnu Majah dan Daruqutni)

 

Rasulullah juga bersabda bersabda :

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ مُرْشِدٍ

Artinya : “Tidaklah sah pernikahan kecuali dengan wali yang dewasa”.

 

Adapun syarat-syarat menjadi wali dalam pernikahan adalahmerdeka (mempunyai kekuasaan), berakal, baligh dan Islam.

 

  1. a.    Macam dan Tingkatan Wali

 

Wali nikah terbagi menjadi dua macam yaitu  wali nashab dan wali hakim. Wali nashab adalah wali dari pihak kerabat, artinya wali yang mempunyai pertalian darah atau keturunan dengan perempuan yang akan dinikahkannya. Wali nasab ditinjau dari dekat dan jauhnya dengan mempelai wanita dibagi menjadi dua, yaitu wali akrab ( lebih dekat hubungannya dengan mempelai perempuan ) dan wali ab’ad ( wali yang lebih jauh hubungannya dengan mempelai perempuan ).

Di bawah ini susunan wali nasabsebagai berikut :

1)      Ayah

2)      Kakek dari pihak bapak

3)      Saudara laki-laki kandung

4)      Saudara laki-laki sebapak

5)      Anak laki-laki saudara laki-laki kandung

6)      Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak

7)      Paman (saudara bapak) sekandung

8)      Paman (saudara bapak) sebapak

9)      Anak laki-laki dan paman kandung

10)  Anak laki-laki dari paman laki-laki

11)  Hakim

 

Sedangkan  wali hakim adalah pejabat yang diberi hak oleh penguasa untuk menjadi wali nikah dalam keadaan tertentu dengan sebab tertentu pula. Dengan kata lain wali hakim ialah pejabat negara yang beragama Islam dan dalam hal ini biasanya kekuasaanya di Indonesia dilakukan oleh Kepala Pengadilan Agama, ia dapat mengangkat orang lain menjadi hakim (biasanya yang diangkat Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan) untuk mengakadkan nikah perempuan yang berwali hakim. Sebagaimana sabda Rasulullah :

 

عَنْ عَائِشَةَ رض. قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلم. أَيُّمَ امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيَّهَا فَنِكَحُهَا بَاطِلُ, فَاِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَاِنِ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيٌّ مَنْ لاَ وَلِيًّ بِهَا

Artinya : “Dari ‘Aisyah ra. ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda, siapapun perempuan yang menikah dengan tidak seijin walinya maka batallah pernikahannya, dan jika ia  telah disetubuhi, maka bagi perempuan itu berhak menerima mas kawin lantaran ia telah menghalalkannya kemaluannya, dan jika terdapat pertengkaran antara wali-wali, maka sultanlah yang menjadi wali bagi yang tidak mempunyai wali (HR. Imam yang empat kecuali Nasa’i)

 

Adapun sebab-sebab berpindahnya wewenang wali nasab kepada wali hakim, adalah apabila wali nasab:

1)      Tida ada wali nashab

2)      Tidak cukup syarat wali bagi yang lebih dekat dan wali yang lebih jauh tidak ada

3)      Wali yang lebih dekat ghaib

4)      Wali yang lebih dekat sedang melakukan ihram / ibadah haji

5)      Wali yang lebih dekat masuk penjara dan tidak dapat dijumpai

6)      Wali yang lebih dekat adal menikahkan, yaitu tidak mau menikahkan

7)      Wali yang lebih dekat tawari, yaitu sembunyi-sembunyi karena tidak mau menikahkan

8)      Wali yang lebih dekat ta’azzuz, yaitu bertahan, tidak mau menikahkan

9)      Wali yang lebih dekat mufqud, yaitu hilang tidak diketahui tempatnya dan tidak diketahui tempatnya dan tidak diketahui pula hidup dan matinya. 

 

  1. b.   Wali Mujbir

 

Di samping ada wali nasab dan wali hakim masih ada wali mujbir yaitu wali yang berhak menikahkan anak perempuannya yang sudah baligh, berakal dari gadis untuk dinikahkan, dengan tiada meminta ijin terlebih dahulu kepada anak perempuan tersebut. Dalam hal ini hanya bapak dan kakek yang dapat menjadi wali mujbir.

 

 

Kebolehan bapak dan kakek menikahkan anak perempauannya tanpa minta ijin terlebih dahulu padanya adalah dengan syarat-syarat :

1)   Tidak ada permusuhan antara wali mujbir dengan anak gadis tersebut

2)   Sekufu’ antara perempuan dengan laki-laki calon suaminya

3)   Calon suami itu mampu membayar mas kawin

4)   Calon suami tidak cacat.

 

  1. c.    Wali Adhal

 

Wali adhal ialah wali yang tidak mau menikahkan anaknya, karena alasan-alasan tertentu yang menurut walinya itu tidak disetujui adanya pernikahan anaknya atau cucunya dengan calon suami karena tidak sesuai dengan kehendak walinya, padahal wanita yang hendak menikah itu berakal sehat dan calon suami juga dalam keadaan sekufu. Apabila terjadi hal seperti tersebut diatas, maka perwalian itu pindah langsung pada wali hakim, sebab adhal itu zalim sedang yang dapat menghilangkan kezaliman adalah hakim.

 

فَاِنِ اشْتَجَرُوْا فَالصُّلْطَانُ وَلِيٌّ مَنْ لاَ وَلِيَ لَهَا (رواه أبو داود و الترمذى واب ماجة)

Artinya : “Kalau (wali-wali itu) enggan (menikahkan) maka hakim menjadi wali perempuan yang tidak mempunyai wali”

(HR. Abu Daud, Turnmudzi dan Ibnu Hiban).

 

Apabila adhalnya sampai tiga kali, maka perwaliannya pindah pada wali ab’ad bukan wali hakim. Kalau adhalnya itu karena sebab yang logis menurut  hukum Islam, maka tidak disebut adhal seperti : wanita itu nikah dengan pria yang tidak sekufu, maharnya di bawah mahar misil dan wanita itu dipinang oleh laki-laki yang lebih pantas daripada pinangan pertama itu.

 

  1. 2.      Saksi Nikah   

 

Saksi dalam pernikahan sangat berperan sekali terhadap syah atau tidaknya perkawinan itu . Apabila saksi tidak ada, maka perkawinan itu tidak akan syah, karena merupakan salah satu rukun perkawinan. Karena itu kedudukan saksi dalam pernikahan yaitu : untuk lebih menjaga apabila ada tuduhan atau kecurigaan orang lain terhadap pergaulan mereka dan untuk menguatkan janji mereka berdua begitu pula terhadap keturunannya.

Saksi dalam pernikahan disyaratkan dua orang laki-laki. Selanjutnya ada dua pendapat tentang saksi laki-laki dan perempuan. Jika pernikahan disaksikan oleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan, maka nikahnya tidak sah. Pendapat lain mengatakan sah saja. Berdasarkan firman Allah SWT :

 

Artinya : ..“Angkatlah dua orang saksi laki-laki diantara kamu jika tidak ada angkatlah satu orang laki-laki dan dua orang perempuan yang kamu setujui .. (QS. Al Baqarah/2 : 282)

Sabda Rasulullah

لاَ نِكَاحَ اِلاَّ بَوَالِيٍّ وَشَاهِدَى عَدْلٍ ( رواه احمد )

Artinya : “Sahnya suatu pernikahan hanya dengan wali dan dua orang saksi yang adil (HR. Ahamd)

 

  1. 3.      Ijab Qabul

 

Ijab adalah upacara wali dari pihak perempuan atau atau wakilnya sebagai penyerahan kepada pihak pengantin laki-laki. Sedangkan qabul adalah upacara pengantin laki-laki atau wakilnya sebagai tanda penerimaan.

Ijab dari wali atau dari orang tua pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki : “Aku nikahkan engkau dengan Fatimah anakku dengan mas kawin sepuluh ribu rupiah tunai “, maka qabul dari pengantin laki-laki adalah : “ Aku terima nikahnya Fatimah binti Sulaiman dengan mas kawin sepuluh ribu rupiah tunai“. Sedangkan syarat-syarat ijab qabul sebagaimana di atas.

 

  1. 4.      Khutbah Nikah

 

Khutbah nikah adalah khutbah/pidato yang dibacakan sebelumakad nikah dilangsungkan. Pada dasarnya isi dan redaksi khutbah nikah tidak berbeda dengan khutbah lainnya, yaitu dimulai dengan bacaan tahmid, kemudian syahadat, shalawat atas nabi, membaca ayat-ayat Al Qur’an, kemudian nasehat untuk pengantin dan diakhiri dengan doa.

Bedanya terletak pada isi nasehat ditekankan pada bekal pengantin dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang baru bagi mereka, terutama mengingatkan hak dan kewajiban suami isteri yang mesra, intim, serasi, sakinah, rukun, damai, dan saling asah, saling asih dan saling asuh untuk selamanya.

Adapun kedudukan hukumnya adalah sunah, baik untuk dilaksanakan. Menurut Imam Syafi’i disunatkan, khatib berkutbah dua kali, keduanya dilaksanakan sebelum akad nikah dilangsungkan.

Disunatkan pula bagi wali ketika melaksanakan ijab didahului dengan khutbah ketiga yakni membaca tahmid/puji-pujian kepada Allah SWT dan shalawat atas Nabi SAW. Kemudian dilaksanakan ijab.

 

  1. 5.      Mahar

 

  1. Pengertian dan hukum Mahar

 

Mahar atau mas kawin adalah pemberian wajib dari suami kepada isteri sebab pernikahan. Bisa berupa uang, benda, perhiasan, atau jasa seperti mengajar Al Qur’an. Membayar mahar hukumnya wajib bagi laki-laki yang menikah dengan seorang perempuan, karena termasuk syarat nikah, tetapi menyebutkannya dalam akad nikah hukumnya sunat. Dan makruh tidak menyebut mas kawin diwaktu akad nikah.

 

Mahar hukumnya wajib, sebagaimana firman Allah SWT :

Artinya : “Bayarkanlah mahar kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian hibah/tanda cinta (QS. An Nisa4: 4)

 

  1. Ukuran Mahar

 

Pemberian mahar adalah kewajiban seorang suami kepada calon istri sebagai symbol penghargaan kepada seorang perempuan. Karena simbul ukurannya dapat materi dan non materi. Nabi menganjurkan kesederhanaan dalam menentukan mahar. Rasulullah bersabda :

تَزَوَّجْ وَلَوْ بَخاَ تَمٍ مِنْ حَدِيْدٍ ( رواه احمد وابةدود)

“Nikahlah engkau walau maharnya berupa cincin dari besi” ( H.R. Ahmad dan Abu Dawud )

 

Mahar dapat berupa harta benda, dapat juga berupa suatu hal atau perbuatan yang bermanfa’at. Demikian juga besarnya mahar tidak ada ukuran tertentu yang harus diberikan oleh calon mempelali laki-laki kepada calon istrinya sebagai tanda kasih sayang. Mahartidak ada batas banyak dan sedikitnya. Pihak perempuan dan laki-laki boleh menentukannya. Mahar yang baik adalah tidak terlampau mahal. Suami wajib membayar sebanyak mahar yang telah ditetapkan waktu ijab qabul.

 

  1. Macam-macam Mahar

 

Jenis macam mahar ada dua, yaitu:Mashar Musamma yaitu mahar yang disebutkan jenis dan jumlahnya pada waktu akad nikah berlangsung dan Mahar Mitsil yaitu mahar yang jenis atau kadarnya diukur sepadan dengan mahar yang pernah diterima oleh keluarga terdekat dengan melihat status sosial, umur, kecantikan, gadis atau janda. Untuk mengukur mahar mitsil seorang wanita, maka yang dilihat dahulu adalah mahar saudara perempuan seibu sebapak, lalu saudara perempuan seayah, lalu anak perempuan saudara lelaki, lalu bibi dari pihak ayahnya dan seterusnya. Mitsil artinya sama. Kalau mahar saudara perempuan seayah seibu dulu waktu nikah, maharnya 50 gram emas, maka mahar mitsil perempuan yang nikah juga sama 50 gram emas. 

 

  1. Cara membayar Mahar

 

Pembayaran mahar dapat dilaksanakan secara kontan  (حَالاً) dapat juga dengan cara dihutang (مُؤَ جَّلاً)Apabila kontan maka dapat dibayarkan sebelum dan sesudah nikah. Apabila pembayaran mahar itu dihutang maka, (1). Wajib dibayar seluruhnya, apabila sudah dicampuri atau salah satu dari keduanya meninggal dan (2). Wajib dibayar separoh, apabila : mahar telah disebut pada waktu akad dan suami telah mencerai istri sebelum dicampuri. Apabila mahar tidak disebut dalam akad nikah ( mitsil ) maka suami hanya wajib memberikan mut’ah, sebagaimana firman Allah :

 

 

 “Jika kalian menceraikan siteri-isteri kalian sebelum kalian bercampur dengan mereka, padahal kalian sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang kalian sudah tentukan.” (QS.Al Baqarah/2 : 237).

 

Diterangkan juga dalam ayat yang lain, sebagaimana firman Allah SWT :

Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. dan hendaklah kamu berikan suatu mut’ah (pemberian) kepada mereka. orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. ( Q.S. Al-Baqarah/2 : 236 )

 

  1. 6.      Walimah dan Hikmahnya

 

  1. Pengertian walimah

 

Walimah berasal dari kata walm yang artinya ikatan atau pertemuan.Walimah dalam bahasa arab disebut walimatul ‘Urs atau pesta pernikahan adalah pesta yang diselenggarakan setelah akad nikah dengan menghidangkan jamuan kepada para undangan, sebagai pernyataan rasa syukur atas nikmat dan karunia Allah SWT. Pesta pernikahan disebut walimah karena diadakan sehubungan dengan terjadinya ikatan antara mempelai laki-laki dan perempuan.

 

  1. Hukum menyelenggarakan Walimah ‘Urs

 

Jumhur ulama berpendapat bahwa mengadakan walimah ‘urs hukumnya sunah muakad, berdasarkan sabda Rasulullah :

قاَلَ رَسُوالله لِعَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ عَوْ فِ.اَوْلِمْ وَلَوْ بِشاَ ةٍ ( متفق عليه )

 

 “Rasulullah SAW. Bersabda kepada Abdurrahman bin auf : “ Adakanlah pesta walaupun hanya memotong seekor kambing“ ( H.R. Mutafaqun ‘Alaihi )

 

Di samping walimah ‘urs terdapat berbagai macam walimah terkait dengan suatu peristiwa atau kegiatan seperti walimah aqiqah yaitu walimah karena kelahiran anak, walimah wakirah yaitu walimah untuk mendirikan bangunan, walimah I’dzar yaitu walimah karena khitan, walimah naqi’ah yaitu walimah karena pulang dari bepergian dan sebagainya. Menyelengarakan walimah adalah sangat penting, walaupun diadakan dengan sederhana.

 

 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyelenggarakan walimah yaitu niat syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan oleh-NYA, jangan berlebih-lebihan atau tidak memaksakan diri serta harus disesuaikan dengan keadaan, jangan membeda-bedakan antara orang kaya dan miskin.

 

  1. Hukum menghadiri Walimah

 

Hukum menghadiri walimah adalah wajib, sebagaimana sabda Rasulullah :

 

قال. اِذَا دُعِىَ اَحَدُكُمْ اِلىَ وَلِيْمَةٍ فَلْيَأْ تِهاَ (متغق عليه )

“Rasulullah SAW bnersabda : Jika salah seorang d antaramu diundang untuk menghadiri suatu pesta, hendaklah ia menghadirinya “ ( Mutafaqun ‘Alaihi ).

Oleh karena menghadiri walimatul ‘urs wajib, maka meninggalannya adalah berdosa. Hal tersebut berdasarkan Sabda Rasulullah SAW. :

 

وَعَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْ لَ اللهِ ص م قَا لَ وَمَنْ تَرَكَ اَلدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ ( متفق عليه )

“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda : “Barang siapa yang meninggalkan undangan, sesungguhnya ia telah durhaka kepada Allah dan Rasulnya ( Mutafaqun ‘Alaihi )

 

  1. Hikmah  Walimah

 

Perintah Allah SWT dan sunah Rasul jika dikerjakan, maka akan mengandung banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Demikian juga dengan adanya walimatul ‘urs juga mengandung hikmah. Adapun hikmah diadakannya walimah adalah :

1)      Menyiarkan pernikahan karena sunah hukumnya dan berusaha menghindari nikah sirri ( rahasia )

2)       Mengungkapkan rasa gembira dalam menikmati kebaikan.

3)      Agar pernikahan diketahui oleh orang banyak.

4)       Memberikan rangsangan segera menikah kepada orang yang suka membujang.

 

 

  1. D.     MACAM-MACAM PERNIKAHAN  TERLARANG

 

Nikah terlarang maksudnya pernikahan yang tidak diperbolehkan dalam agama Islam, karena sesuatu sebab yang lain atau perbuatan tersebut bukan merupakan ajaran Islam.Adapun macam-macam pernikahan yang dilarang dalam agama Islam adalah :

 

  1. Nikah Mut’ah

 

Nikah mut’ah ialah nikah yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan semata-mata untuk melampiaskan hawa nafsu dan bersenang-senang untuk sementara waktu. Nikah tersebut dilarang karena dilakukan untuk waktu yang terbatas dan tujuannya tidak sesuai dengan tujuan perkawinan yang disyari’atkan. Nikah mut’ah pernah diperbolehkan oleh Nabi Muhammaad SAW tetapi kemudian dilarang untuk selamanya.

 

 

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ اْلاَكْوَعِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَخَّصَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَا مَاَوْ طَا سٍ فِى الْمُتْعَةِثَلاَثَةَاَيَّامٍ ثُمَّ نَهَى عَنْهَا( رواه مسلم )

 

Dari Salah bin Al Akwa ra ia berkata“Pernah Rasulullah SAW. membolehkan perkawinan mut’ah pada hari peperangan Authas selama tiga hari. Kemudian sesudah itu ia dilarang.” ( H.R. Muslim )

 

  1. Nikah Syighar (kawin tukar)

 

Nikah sighar ialah wali bagi seorang perempuan menikahkan yang ia walikan kepada laki-laki lain tanpa mas kawin, dengan pernjanjian bahwa laki-laki itu akan memberikan imbalan, yaitu mau mengawinkan wanita di bawah perwaliannya. Misalnya Amir menikahkan anaknya bernama Fatimah dengan Imran tanpa mahar harta benda, dengan perjanjian Imran mau menikahkan wanita dibawah perwaliannya kepada si Amir tanpa mahar. Yang dijadikan mahar adalah kemaluan masing-masing dari kedua wali tersebut. Malik berpendapat bahwa perkawinan tersebut tidak disyahkan selamanya, dan harus dibatalkan, baik sesudah atau sebelum terjadi pergaulan ( dukhul ).

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِى الشَّغَارِ فِى الْعَقْدِ وَالشَّغَارَ أَنْ يُزَوَّجَ الرَّجُلُ ابْنَتَهُ علَى اَنْ يُزَوَّجَهُ ابْنَتَهُ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا صَدَاقٌ (رواه البخارى و مسلم)

Artinya : “Dari Ibnu Umar bahwasanya Nabi SAW melarang syighar dalam akad pernikahan. Syighar ialah mengawinkan seseorang dengan anak perempuannya akan tetapi dalam pertunangan kedua mempelai tidak disertai dengan mas kawin.” (HR. Bukahri muslim )

 

  1. Nikah Muhallil ( Nikah untuk menghalalkan )

 

Nikah muhallil ialah nikah yang dilakukan seseorang dengan tujuan untuk menghalalkan perempuan yang dinikahinya bagi bekas suaminya yang telah menthalaq tiga, untuk kawin lagi. Nikah tersebut dilarang karena tujuannya tidak sesuai dengan tujuan pernikahan yang sebenarnya. Perempuan yang telah dithalak tiga, tidak boleh kawin lagi dengan bekas suaminya yang telah menthalak tiga itu, kecuali kalau perempuan tersebut sudah kawin dengan laki-laki lain, bukan untuk tujuan menghalalkan dinikahi oleh bekas suaminya yang pertama, telah dicampuri, dicerai oleh suami yang kedua dan baru boleh dinikah kembali.

Diantara dalil yang melarang nikah muhallil :

 

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍرَضِىَ الله ُعَنْهُ قَالَ:لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ ( رواه الترمذى والنسـائ )

“Dari Ibnu Mas’ud RA. Berkata : telah mengutuki Rasulullah SAW. terhadap orang yang laki-laki yang menghalalkan dan yang dihalalkan “ ( H.R. Tirmidzi dan Nasa’i )

 

 

Muhallil adalah laki-laki yang menikahi perempuan dengan maksud menghalal-kan perempuan itu bekas suaminya yang telah menthalak tiga, untuk kawin lagi. Muhallahu adalah bekas suami yang telah menthalak tiga itu.

 

  1. Nikah beda Agama

 

Maksudnya adalah laki-laki muslim dilarang menikahi perempuan non muslim atau sebaliknya wanita muslimah dilarang dinikahi laki-laki non muslim. Sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur’an :                                                                                                                                                                                      

Artinya : “Jangan nikah perempuan-perempuan musyrik (kafir) sehingga mereka beriman, sesunguhnya hamba sahaya yang beriman lebih baik dari perempuan musyrik, meskipun ia menarik hatimu (karena kecantikannya) janganlah kamu nikahkan perempuan muslimah dengan laki-laki musyrik sehingga ia beriman.”

(QS. AL Baqarah/2 : 221) .

 

 

  1. E.      HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTERI

 

Terwujudnya keluarga yang sakinah dalam rumah tangga dapat terwujud, jika kedua belah pihak saling mengetahui kewajiban dan hak masing-masing, baik sebagai seorang suami ataupun istri. Dalam rumah tangga ada kewajiban bersama yang harus dipahami oleh keduanya. Berikut ini akan dijelaskan kewajiban bersama, kewajiban suami-hak istri dan kewajiban istri-hak suami. 

 

  1. Kewajiban bersama Suami Istri

 

Kewajiban bersama yang yang harus dijalankan oleh suami dan istri adalah :

  1. Mewujudkan pergaulan yang serasi, rukun, damai, dan saling pengertian;
  2. Menyanyangi anak-anaknya;
  3. Memelihara, menjaga, mengajar dan mendidik anak 

 

  1. Kewajiban Suami

 

Suami berkewajiban memberi nafkah, mempergauli istri dengan baik, kewajiban memeimpin keluarga dan mendidik keluarga.

 

  1. Kewajiban memberi nafkah

 

Memberikan nafkah atau belanja kepada seorang istri adalah sangat penting sekali, yaitu dengan memenuhi kebutuhan hidup baik sandang, pangan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Artinya kebutuhan primer dan sekunder harus terpenuhi sesuai dengan kesanggupannya.

 

 

  1. Kerwajiban bergaul dengan istri secara baik.

 

Mempergauli istri dengan cara yang baik adalah merupakan kewajiban yang harus dikerjakan oleh seorang suami. Pergaulan yang baik itu harus didasarkan pada norma agama yang berlandaskan pada akhlak yang mulia, sebagaimana firman Allah SWT. :

 Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

( Q.S. An-Nisa’/4 : 19 )

 

  1. Kewajiban memimpin keluarga

 

Suami berkewajiban memimpin keluarga (istri dan anak-anaknya), agar tujuan perkawinan menjadi keluarga yang bahagia sejahtera lahir dan batin dapat terpenuhi. Keteladan suami sebagai seorang pemimpin harus nampak dihadapan isti dan anak-anaknya. Sebagaimana firman Allah SWT. :

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka( Q.S. An-Nisa’/4 : 34 )

 

  1. Kewajiban mendidik keluarga

 

Mendidik keluarga merupakan tanggung jawab suami, baik pendidikan agama maupun umum. Keberhasilan pendidikan dalam keluarga sangat tergantung peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Pendidikan anak bisa dimulai saat masih dalam kandungan hingga dia dilahirkan. Diharapkan dengan ilmu yang dimiliki bisa mengamalkan dalam kehidupan sehingga bisa terhindar dari siksa api neraka. Sebagaimana firman Allah SWT :

”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.( Q.S. at-Tahrim/66 : 6 )

 

 

  1. Kewajiban Isteri

 

Hak seorang suami merupakan kewajiban istri. Kewajiban istri meliputi; mentaati suami, menjaga kehormatan, mangatur rumah tangga dan mengurus serta mendidik anak-anaknya.

 

  1. Kewajiban mentaati suami

Istri wajib taat kepada suami, karena suami adalah pemimpin keluarga. Selama perintah itu datangnya dari Allah SWT dan Sunah Rasul, maka apa yang diperintahkan suami harus dikerjakan sesuai dengan kemampuannya.

 

  1. Kewajiban menjaga kehormatan

 

sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka).( Q.S. an-Nisa’/4 : 34 )

 

  1. Kewajiban mengatur umah tangga

Kewajiban istri yang lain adalah melayani dan keluarga dan mengatur rumah tangga. Pekerjaan mengurus rumah tangga tidak harus dikerjakan oleh istri sendiri, tetapi bisa dikerjakan secara bersama dalam anggota keluarga. Akan tetapi istri bertanggung jawab atas terlaksananya tugas-tugas dalam rumah tangga.

 

  1. Kewajiban mendidik anak

Mendidik anak dalam rumah tangga lebih dominan seorang istri daripada suami. Istri lebih dekat hubungannya dengan anak-anaknya daripada suami.

 

 

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya[143]. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( Q.S. al-Baqarah/2 : 228 )

 

 

 

 

       
     
 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s