HUKUM SYARA’

Allah menciptakan makhluk dengan tujuan agar mereka beribadah kepadaNya semata. Ia mengutus para rasulNya untuk mengajar manusia, lalu menurunkan kitab-kitab kepada mereka, sehingga bisa memberikan hukum (putusan) yang benar dan adil di antara manusia. Hukum tersebut tercermin dalam firman Allah Ta’ala, dan dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Hukum-hukum itu mengandung berbagai masalah. Di antaranya ibadah, mu’amalah (pergaulan antar manusia), aqa’id (kepercayaan), tasyri’ (penetapan syari’at), siyasah (politik) dan berbagai permasalahan manusia lainnya.

 

  1. A.        HUKUM SYAR’I
    1. Makna Hukum Syar’i

Hukum syar’i menurut para ahli ushul fiqih adalah khithab syar’i yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf baik bersifat iqtidla’/tuntunan, takhyir/membolehkan atau wadl’iy / menetapkan.

  1. Kithab Allah yaitu firman Allah secara langsung yaitu al-qur’an. atau dengan perantaraan yaitu segala hal yang kembali pada kalamNya baik berupa sunnah, ijma’, dan semua dalil-dalil syar’iyyah yang digariskan oleh syari’ untuk diketahui hukumnya.
  2. Iqtidla’ yaitu tuntutan baik itu menuntut untuk melakukan atau meninggalkan, baik itu melalui jalan ilzam atau tarjih.
  3. Takhyir yaitu menyamakan antara melakukan sesuatu atau meninggalkan-nya tanpa mentarjih salah satunya atau membolehkan kedua hal tersebut dari seorang mukallaf.
  4. Wadl’iy adalah Menetapkan sesuatu sebagai sebab yang lain atau syarat yang lain atau mani’ yang lain.

 

 

 

  1. ContohHukum Syar’i
    1. Firman Allah surat Al Maidah :1

$

Hukum syar’iy karena khithab Allah tersebut berkaitan dengan menepati janji sebagai tuntutan untuk melakukannya.

 

  1. Firman Allah surat al Hujurat : 11

$

Hukum syar’iy karena khithab Allah tesebut berkaitan dengan menghina yang harus ditinggalkan.

 

  1. Firman Allah. surat al Maidah :2

$

Hukum syar’iy karena khithab Allah tesebut berkaitan dengan berburu sebagai hal yang dibolehkan untuk dilakukan atau ditinggalkan

 

  1. Firman Allah surat Al Imron : 97

Hukum syar’iy karena khithab Allah tersebut berkaitan dengan kewajiban haji bagi orang mukallaf yang mampu melaksanakannya.

 

  1. Firman Allah surat Al Maidah : 38

 

Hukum syar’iy karena khithab Allah tersebut berkaitan dengan perbuatan mencuri yang harus dipotong tangannnya. Baik itu pencuri laki-laki ataupun perempuan.

 

  1. Sabda Nabi Muhammad saw : “Pena itu telah diangkat dari hak kelakuan tiga macam : 1. dari orang yang sedang tidur nyenyak hingga ia bangun, 2 dari anak sehingga ia dewasa 3. dari orang gila sehingga ia sembuh kembali”.

 

Hukum syar’iy dalam sabda nabi saw tersebut berkaitan dengan ditetapkannya tidur, anak kecil, dan gila sebagai hal yang mencegah dikenai beban atau taklif.

 

 

  1. Macam-macamhukumsyar’iy

Hukumsyar’iymenurutulamaushulfiqihdibagiatasduamacamyaituhukum taklifidanhukumwadl’iy.Keteranganmasing-masingkeduanya, sebagaiberikut :

  1. HukumTaklifi

Pengertian :

AdalahSegalasesuatuyangmenghendakituntutanuntukmenger-jakan, meninggalkan, ataupilihanantarakeduanya.

Disebut hukum taklifi karena pengenaan beban pada orang mukallaf baik itu melakukan atau mencegah perbuatan maupun kebolehan antara melakukan atau mencegah perbuatan itu.

 

Contoh-contoh hukum taklifi

Firman Allah yang menuntut orang mukallaf untuk melakukan suatu perbuatan.

 

 

 

  1. HukumWadh’i

 

HukumWadh’iadalah :Suatuketetapanyangmenghendakisesua`tumenjadisebab yang lain ataumenjadiSyaratataupenghalangbagisesuatu yang lain,

Contoh :

–         Sesuatu yang menjadisebab yang lain sepertifirmanalllah ‘Dan pencurilakilakidanpencuriperempuanmaapotonglahkedoatanganya,

 

(Q.S.Almaidah 38)

Ayatinimenetapkanbahwapencurianmenjjadisebab di wajibkanyamemotongtangan.

Dan firman Allah’Pezina Permpuan dan laki laki,jilidlah  dari keduanya  dengan 100 jilidan.

menetapkan perzinahan menjadi sebab diwajibkanya hokum jilid.dan juga sebagian dari beberapa nas yang menetapkan sebab menjadikan adanya musabab.(Q.S Annur 2)

 

–   Sesuatu yang menetapkan sesuatu menjadi syarat lain.spt sabda nabi ‘Tidak sah nikah kecuali dengan kehadiran Wali dan dua saksi.

Hadits ini menetapkan Hadirnya seorang Wali dan dua orang saksi menjadi Syarat sahnya nikah. Dan sabda nabi ‘Allah tdk akan menerima sholat Tanpa dalam keadaan suci/berwudlu. Hadits ini menetapkan bersuci menjadi syarat sahnya sholat ,dan beberapa nash yang menunjukkan/menjadikanyan sesuatu menjadi syarat sesuatu yang lain.

–   Sesuatu yang menetapkan sesuatu menjadi penghalang bagi sesuatu yang lain,spt hadits nabi SAW’Tidak sah sholatnya orang yang tidak membaca surat Alfatihah’Hadits ini menetapkan tidak membaca fatehah menjadin penghalang sahnya sholat.dan hadits hadits  lain yang menunjukkan menjadikanya sesuatu menjadi penghalang sesuatu yang lain

 

  1. B.     AL HAKIM

 

  1. Pangertian al-Hakim

Al Hakim adalah dzat yang mengeluarkan hukum. Dia adalah Allah, maksudnya Dialah sebagai sumber hukum. Allah adalah dzatyang menyuruh, melarang, mewajibkan, mengharamkan, memberi pahala atau siksa. Dengan demikian Al Hakim adalah Allah. Tidak ada hukum kecuali apa yang diputuskanNya. Tidak ada syariat kecuali apa yang disyariatkanNya. Hal ini didasarkan pada Al-Qur’an dan Ijma’ kaum muslimin.

Firman Allah dalam Al Qur’an :

 

   

Artinya : “Menetapkan Hukum itu hanyalah hak Allah” (Al-an’am : 57)

 

   

Artinya : “Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaanNya” (Al An’am : 62 )

 

Berdasarkan pernyataan di atas, tidak ada kekuasaan mengeluarkan hukum selain AIIah. tugas rasul hanyalah menyampaikan hukum-hukum Allah. Tugas para mujtahid hanyalah mengetahui hukum-hukum ini dan mengungkap-kannya dengan metode-metode dan kaidah yang diletakkan ilmu ushul fiqlh.

Oleh karena itu mereka bersepakat tentang pengertian hukum syar’iy adalah khitob/firman Allah SWT yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf baik yang bersifat tholaby / tuntutan, takhyiry / pilihan atau wadl’iy / menjadikan.

 

  1. MetodeMengetahuiHukum Allah

Menurut ijma’ bahwa Al Hakim adalah Allah. Tetapi para ulama berbeda pendapat tentang masalah penting yang berhubungan dengan metode mengetahui hukum-hukum Allah, yaitu Apakah hukum-hukum Allah hanya diketahui dengan perantaraan rasul-­rasulNya dan kitab-kitanNya atau mungkinkah akal mampu mengetahuinya tanpa perantaraan rasul-rasulNya dan kitab-kitabNya ?

(1)   MadzhabAsy’ariyah

Golonganasy’ariyah (Abu Hasan al Asy’ary)berpendapatbahwahukum-hukum Allah tentangperbuatan orang mukallaf tidakmungkindiketahuikecualidenganperan-taraanrasul-rasulNyadankitab-kitabNya. Karena akal jelas membeda-bedakan perbuatan, adakalnya akal menilai baik suatu perbuatan dan kadangkala menilai buruk suatu perbuatan.

(2)   MadzhabMu’tazilah

Golonganmuktazilah (WashilIbnAtha’)berpendapatbahwahukum-hukum Allah tentangperbuatan orang mukallafdapatdiketahuidenganakaltanpaperantaraan rasul-rasulNyadankitab-­kitabNya, karenadalam setiap perbuatan orang mukallafterdapatsifatdanpengaruh yang berbahayamaupun yang bermanfaat, sehinggaakalmampumenjelaskansifat-sifatperbuatandanpengaruhnya yang baikatauburuk. Hukum Allah atas perbuatan-perbuatan itu menurut penemuan akal baik dari segi manfaat atau bahayanya.

Adapun pendapat yang kuat dan terpilih dalam masalah ini adalah pendapat golongan asy’ariyah bahwa hukum-hukum Allah hanya dapat diketahui dengan perantaraan rasul-rasulNya dan kitab-kitabnya,karena akal membeda-bedakan perbuatan, adakalnya akal menilai baik dan adakalanya menilai buruk sebagaimana keterangan yang sudah lewat.

Disamping itu, Sesungguhnya perbuatan mukallaf yang baik adalah perbuatan yang ditunjukkan oleh syar’i bahwa perbuatan itu diperbolehkan atau dituntut untuk mengerjakannya, Sedangkan perbuatan mukallaf yang buruk adalah perbuatan yang ditunjukkan oleh Syari’ sebagai hal yang buruk dan disurug untuk ditinggalkan. Oleh karena itu ukuran baik dan buruk adalah syari’ bukan akal.

Dengan demikian maka tidak ada hukum bagi Allah tentang perbuatan hamba sebelum diutus para rasul dan sebelum datangnya dakwah, Oleh karena itu, tidak ada hukum maka tidak ada beban, tidak ada beban maka tidak ada pahala dan siksa.

Firman Allah SWT :

 

Artinya : “Sekali-kali tidak memaksa sehingga kami mengutus seorang utusan ” (Al Isra’: 15)

 

 

  1. Kedudukan Hakim Dalam Hukum Islam

 

Kedudukan al hakim dalam hal ini adalah Allah SWT adalah sebagai pembuat sekaligus yang  menetapkan hukum untuk dipatuhi oleh setiap mukallaf (mahkum alaih).

Mahkum Alaih adalah orang-orang mukallaf, yaitu orang-orang muslim yang sudah dewasa dan berakal dengan syarat ia mengerti apa yang akan dilakukan sebagai tugas dan tanggung jawabnya. Berarti mereka sebagai pelaku perbuatan yang berkaitan dengan hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT.

 

 

MAHKUM FIH DAN MAHKUM ‘ALAIH

 

Dalamkehidupansehariharikitatidakbisahidupseenaknyasendiri, semuanyasudahdiaturolehAlloh.Dia-lah sang pembuathukum yang dititahkankepadaseluruhmukallaf, baik yang berkaitdenganhukumtaklifi (seperti:wajib,sunnah,haram,makruh,mubah,maupun yang terkait) denganhukumwad’I (seperti:sebab,syarat,halangan,sah,batal,fazid,azimahdanrukhsoh).untukmenyebutistilahhukumatauobjekhukumdalamushulfiqihdisebutmahkumfih,karenadidalamperistiwaituadahukumsepertihukumwajibdanhukumharam.ataulebihmudahnyaadalahperbuatanseorangmukallaf yang terkaitdenganperintahsyari’ ituadalahmahkumfih,sedangkanseseorang yang di kenaikhitobitulah yang disebutmahkumalaih (mukallaf) berikutpenjelasanmasing-masing

 

  1. MAHKUM BIH

 

  1. Pengertian Mahkum fih

Menurut Usuliyyin,yang dimaksud dengan Mahkum fih adalah obyek hukum,yaitu perbuatan seorang mukalllaf yang terkait dengan perintah syari’(Alloh dan Rosul-Nya), baik yang bersifat tuntutan mengerjakan; tuntutan meninggalkan; tuntutan memilih suatu pekerjaan.

Para ulama pun sepakatbahwaseluruhperintahsyari’ ituadaobjeknyayaituperbuatanmukallaf. Dan terhadapperbuatanmukallaftersebutditetapkannyasuatuhukum:

Contoh:

  1. Firman Alloh dalam surat al baqoroh:43

و اقيمو االصلاة) البقرة (

Artinya:”DirikanlahSholat

Ayatinimenunjukkanperbuatanseorangmukallaf,yaknituntutanmengerjakansholat,ataukewajibanmendirikansholat.

  1. Firman Alloh dalam surat al an’am:151

ولاتقتلواالنفس االتي حر م االله الا باالحق) الانعا م (

Artinya:”Jangankamumembunuhjiwa yang telah di haramkanolehAllohmelainkandengansesuatu (sebab)yangbenar”

Dalamayatiniterkandungsuatularangan yang terkaitdenganperbuatanmukallaf,yaitularanganmelakukanpembunuhantanpahakituhukumnya haram.

  1. Firman Alloh dalam surat Al-maidah:5-6

اذاقمتم الى الصلاة فا غسلوا وجو هكو و ايد يكم الى المرا فق الما ئد ه 5-6

Artinya:”Apabilakamuhendakmelakukansholat,makabasuhlahmukamudantangan mu sampaisikusiku”

Dari Ayat diatas dapat diketahui bahwa wudlu merupakan salah satu perbuatan orang mukallaf,yaitu salah satu syarat sahnya sholat.

Dengan beberapa contoh diatas,dapat diketahui bahwa objek hukum itu adalah perbuatan mukallaf.

 

  1. Syarat –syarat mahkum fih
    1. Mukallaf harus mengetahui perbuatan yang akan di lakukan.sehingga tujuan dapat tangkap dengan jelas dan dapat dilaksanakan.Maka seorang mukallaf tidak tidak terkena tuntutan untukk melaksanakan sebelum dia tau persis.

Contoh:Dalam Al qur’an perintah Sholat yaitu dalam ayat “Dirikan Sholat” perintah tersebut masih global,Maka Rosululloh menjelaskannya sekaligus memberi contoh sabagaimana sabdanya”sholatlah sebagaimana aku sholat”begitu pula perintah perintah syara’ yang lain seperti zakat,puasa dan sebagainya.tuntutan untuk melaksanakannya di anggap tidak sah sebelum di ketahui syarat,rukun,waktu dan sebagainya.

  1. Mukallaf harus mengetahui sumber taklif. seseorang harus mengetahui  bahwa tuntutan itu dari Alloh SWT.Sehingga ia melaksanakan berdasarkan ketaatan dengan tujuan melaksanakan perintah  Alloh semata.berarti tidak ada keharusan untuk mengerjakan suatu perbuatan sebelum adanya suatu peraturan yang jelas.hal ini untuk menghindari kesalahan dalam pelaksanaan sesuai tuntutan syara’.
  2. Perbuatan harus mungkin untuk dilaksanakan atau ditinggalkan,berkait dengan hal ini terdapat dengan beberapa syatat yaitu:

1)      tidak syah suatu tuntutan yang dinyatakan mustahil untuk dikerjakan atau di tinggalkan.

2)      tidak syah hukumnya seseorang melakukan perbuatan yang di taklifkan untuk dan atas nama orang lain.

3)      tidak sah suatu tuntutan yang berhubungan dengan perkara yang berhubungan dengan fitrah manusia.

4)      tercapaianya syarat taklif tersebut, seperti iman dalam masalah ibadah,suci dalam masalah sholat.

 

Al masyaqqoh

Perlu diketahui bahwa salah satu syarat tuntutan harus bisa dilakukan, tidak terlepas dari itu dalam melaksanakannya pasti ada ada suatu kesulitan. untuk itu akan kami jelaskan yang dimaksud adalah masyaqqoh (halangan)  serta pembagiannya

Masyaqqohituadaduamacamyaitu:

  1. a.      Masyaqqoh mu’tadah

Yaitu kesulitan yang mampu diatasi oleh manusia tanpa menimbulkan bahaya bagi dirinya kesulitan seperti ini tidak bisa di jadikan alasan untuk tidak mengerjakan taklif,karena setiap perbuatan itu tidak mungkin terlepas dari kesulitan.contohnya:Diwajibkannya adanya sholat ini buakan bermaksud agar badan capek atau bagaimana,akan tetapi untuk melatih dirinya diantaranya bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar

  1. b.      Masyaqqoh goiru mu’tadah

Yaitu suatu kesulitan/kesusahan yang diluar kekuasaan manusia dalam mengatasinya dan akan merusak jiwanya bila di paksakan.Alloh tidak tidak menuntut manusia untuk melakukan perbuatan yang menyebabkan kesusahan.seperti puasa yang terus menerus sehingga mewajibkan selalu bangun malam untuk sahur.

ير يد الله بكم اليسر و لا ير يد بكم العسر البقره

Artinya:Allohmenghendakikemudahanbagimudantidakmenghendakikesukaranbagimu(al baqoroh 185)

  1. Macam macam mahkum bih

Dilihatdarisegi yang terdapatdalamperbuatanitumakamahkumfih di bagimenjadiempatmacam:

  1. Semata mata hak Alloh,yaitu sesuatu yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan.dalam hak ini seseorang tidak di benarkan melakukan pelecehan dan melakukan suatu tindakan yang mengganggu hak ini.hak ini semata mata hak Alloh.dalam hal ini ada delapan macam:

1)      ibadah mahdhoh (murni) seperti iman dan rukun iman yang lima

2)      ibadah yang di dalamnya mengandung makna pemberian dan santunan,seperti:zakat fitrah,karena si syaratkan niat dalam zakat fitrah

3)      bantuan/santunan yang mengandung ma’na ibadah seperti: zakat yang dikeluarkan dari bumi

4)      biaya/santunan yang mengandung makna hukuman,seperti: khoroj (pajak bumi) yang di anggap sebagai hukuman bagi orang yang tidak ikut jihad.

5)      hukuman secara sempurna dalam berbagai tindak pidana sperti hukuman orang yang berbuat zina

6)      hukuman yang tidak sempurna seperti seseorang tidak diberi hak waris,karena membunuh pemilik harta tersebut.

7)      hukuman yang mengandung makna ibadah seperti:kafarat orang yang melakukan senggama disiang hari pada bulan ramadhan

8)      hak hak yang harus di bayarkan,seperti: kewajiban mengeluarkan seperlima harta tependam dan harta rampasan.

  1. Hak hamba yang berkait dengan kepentingan pribadi seseorang seperti ganti rugi harta seseorang yang di rusak.
  2. Kompromi antara hak Alloh dengan hak hamba,tetapi  hak alloh didalamnya lebih dominan,seperti hukuman untuk tindak pidana.
  3. Kompromi antara hak Alloh dan hak hamba,tetapi hak hamba lebih dominan,seperti masalah qishos.

 

  1. MAHKUM ‘ALAIH

 

  1. 1.      Pengertian mahkum alaih

Menurut ushuliyyin yang di maksud mahkum alaih secara bahasa adalah seseorang yang perbuatannya dikenai khitob Alloh SWT yaitu yang di sebut mukallaf.dalam arti bahasa yaitu yang di bebani hukum,sedangkan dalam istilah ushul fiqih mukallaf sering di sebut subjek hukum.

  1. Dasar Taklif

Orang yang dikenai taklif adalah mereka yang sudah di anggap mampu untuk mengerjakan tindakan hukum atau dalam kata lain seseorang bisa di bebani hukum apabila ia berakal dan dapat memahami secara baik taklif. Maka orang yang belum  berakal di anggaptidakbisamemahapitaklifdarisyari’(AlloddanRosulnya) sebagaisabdanabi:

ر فع القلم عن ثلا ث عن النا ئم حتى يستيقظ و عن الصبي حتى يحتلم و عن المجنون حتى يفق(رواه البخا رى والتر مذى والنسا ئى وابن ما جه والدارقطنى عن عا ئثه وابى طا لب)

Artinya:Dianggatpembebananhukumdari 3(jenis orang) orang tidursampaiiabangun,anakkecilsampaibaligh,dan orang gilasampaisembuh.(HR.Bukhori.Tirmdzi,nasai.ibnumajahdandarutQuthnidariAisyahdanAlyibnuAbiThalib)

  1. Syarat syarat taklif

Syarattaklifada 2 yaitu:

1)      orang itu telah mampu memahami khitob syar’i(tuntutan syara’) yang terkandung dalam Al qur’an dan sunnah baik langsung maupun melalui orang lain.Kemampuan untuk memahami taklif ini melalui akal manusia,akan tetapi akan adalah sesuatu yang abstrak dan sulit di ukur ,indikasi yang kongkrit dalam menentukan seseorang berakal atau belun.indikasi ini kongkrit itu adalah balighnya seseorang yaitu dengan di tandai dengan keluarnya haid pertama kali bagi wanita dan keluarnya mani bagi pria melalui mimpi yang pertama kali atau sempurnanya umur lima belas tahun.

2)      Seseorang harus mampu dalam bertindak hukum,atau dalam ushul fiqh di sebut Ahliyyah.maka seseorang yang belum mampu bertindak hukum atau belum balighnya seseorang tidak dikenakan tuntutan syara’.begitu pula orang gila,karena kecakapan bertindak hukumnya hilang.

  1. Pengertian Ahliyyah

Secaraharfiyyahahliyyahadalahkecakapanmenanganisesuatuurusan

AdapunAhliyyahsecaraterminologiadalahsuatusifat yang di milikiseseorang yang dijadikanukuranolehsyari’untukmenentukanseseorangtelahcakapdikenaituntutansyara’

Pembagianahliyyah

1)      Ahliyyah ada’

Yaitu kecakapan bertindak hukum bagi seseorang yang di anggap sempurna untuk mempertanggung jawabkan seluruh perbuatannya,baik yang bersifat positif maupun negatif.ukuran untuk menentukan seseorang telah memiliki ahliyyah ada’adalah aqil baligh dan cerdas

2)      Ahliyyah Al-wajib

Yaitu sifat kecakapan seseorang untuk menerima hak hak yang menjadi haknya,tetapi belum mampu untuk di bebani seluruh kewajiban.

Para usuliyyinmembagiahliyyah al wujubada 2 bagian:

3)      .Ahliyyah al wujub an-naqishoh.

Yaituanak yang masihberadadalamkandunganibunya(janin)janininilahsudahdianggapmempunyaiahliyyahwujubakantetapibelumsempurna.

4)      Ahliyyah al wujub al kamilah

Yaitukecakapanmenerimahakbagiseseoranganak yang telahlahirkeduniasampaidinyatakanbalighdanberakal,sekalipunakalnyamasihkurangseperti orang gila

Halanganahliyyah

Dalampembahasanawalbahwaseseorangdalambertindakhukum di lihatdarisegiakal,tetapi yang namanyaakalkadangberubahatauhilangsehinggaiatidakmampulagidalambertindakhukum.seseorangkecakapannyabisaberubahkarena di sebabkanolehhalhalberikut:

1)      Awaridh samawiyyah yaitu halangan yang datangnya dari Alloh bukan di sebabkan oleh manusia seperti: gila, dungu, perbudakan, sakit yang berkelanjutan kemudian mati dan lupa

2)      Al awaridh al muktasabahyaituhalangan yang disebabkanolehperbuatanmanusiasepertimabuk,terpaksa,bersalah,dibawahpengampunandanbodoh.

 

Semuaperbuatanmukallaf yang berkaitandenganhukumsyara` dinamakandenganMahkumFiih.Akan tetapiadabeberapasyarattertentu agar perbuatannyadapatdijadikanobjekhukum.Dalammengerjakantuntutantersebuttentumukallafmengalamikesulitan-kesulitan(masyaqqah).Ada yang mampudiatasimanusiaseperti :sholat, puasadan haji. Meskipunpekerjaaniniterasaberat, tapimasihbisadilakukanolehmukallaf.Adakesulitan yang tidakwajar yang munusiatidaksanggupmelakukannyasepertipuasaterusmenerusdanmewajibkanuntukbangunmalam, atausuatupekerjaansangatberatsepertiperang fi- sabilillah, karenahalinimemerlukanpengorbananjiwa, hartadansebagainya.Mukallaf yang telahmampu  mengetahuikhitobsyar’i(tuntutansyara’) makasudah di kenakantaklif. Semogabermanfaat.wallohua’lambissowab.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s