sejarah ushul fiqh

Pada hakikatnya, hukum fiqh telah ada semenjak adanya Islam. Ia tumbuh seiring dengan tumbuhnya Islam. Karena Islam adalah agama yang berisikan ajaran ‘aqidah, akhlaq, dan hukum-hukum ‘amali. Namun dalam istilah penamaan ilmu-ilmu tersebut menjadi ilmu fikih dan ilmu ushul fikih memang belum ada saat itu. 
Pada akhir Kurun Kedua Hijrah, keadaan umat Islam semakin berubah. Bilangan umat Islam bertambah ramai sehingga menyebabkan berlakunya percampuran antara orang Arab dan bukan Arab. Kesannya, penguasaan bahasa Arab dalam kalangan orang-orang Arab sendiri menjadi lemah. Ketika itu timbul banyak masalah baru yang tiada ketentuan hukumnya dalam al-Quran dan as-Sunnah secara jelas. Hal ini menyebabkan para ulama’ mula menyusun kaedah-kaedah tertentu yang dinamakana ilmu Usul al-Fiqh untuk dijadikan landasan kepada ijtihad mereka. Kemudian pada abad ketiga hijriyah fenomena penetapan hukum lebih diwarnai oleh munculnya beberapa Imam Madzhab.

A.  Perkembangan Ushul Fiqh pada abad ke-3 H

Setelah Nabi Muhammad saw wafat, para sahabat dan umat Islam dihadapkan dengan permasalahan baru yang belum pernah mereka temukan ketika Rasulullah masih hidup. Untuk menjawab permaslahan baru tersebut, para saahabat melakukan ijtihad untuk memutuskan, memfatwakan, dan menentukan hukum-hukum yang baru muncul.

Dari sinilah, bahwa perumusan fikih sudah mulai nampak. Dan pada saat proses perumusan fikih ini dipraktekan, maka pada saat itulah pemikiran ushul fikih sudah mulai diimplementasikan oleh para sahabat. Diantaranya adalah; Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib. Kendati mereka sudah menggunakan aturan dan pedoman dalam menentukan sebuah hukum dengan baik, tapi sayangnya mereka belum merumuskan metodologi (kaidah-kaidah) penentuan hukum tersebut secara jelas.

Sebagai contoh dari kasus penentuan hukum baru yang dilakukan sahabat Ali ra, sewaktu beliau menetapkan hukum cambuk sebanyak 80 kali terhadap peminum khomr (arak), beliau berkata, “Bila ia minum, ia akan mabuk, dan bila ia mabuk, ia akan menuduh orang berbuat zina. Maka kepadanya dikenakan sanksi tuduhan berzina.” Dari pernyataan Ali tersebut, ternyata beliau sudah menggunakan kaidah ushul, yaitu menutup pintu kejahatan yang akan timbul atau “Sad al-Dzariah”.

Dari contoh di atas, setidaknya para sahabat sudah mampu memberi gambaran kepada kita bahwa mereka dalam melakukan ijtihadnya telah menerapkan kaidah atau metode tertentu, hanya saja kaidah tersebut belum dirumuskan dengan jelas.
Dengan demikian jelas sudah, bahwa sumber-sumber hukum fikih saat itu adalah; al-Quran, sunnah Rosul, serta Ijtihad para sahabat. Dan pada masa itu pula hukum-hukum fiqih belum dirumuskan secara sistematis, sehingga penamaan label ilmu fikih untuk hukum-hukum yang telah diputuskan belum ada, dan pengistilahan title Fuqoha bagi para sahabat (ahli ijtihad) pun belum terasa adanya.

Periode berikutnnya adalah pada masa tabi’in dan pengikut tabi’in, atau 
periode keemasan. Periode ini dimulai dari awal abad ke-2 sampai pada pertengahan abad ke-4 H. Seperti periode sebelumnya, ciri khas yang menonjol pada periode ini adalah semangat ijtihad yang tinggi dikalangan ulama, sehingga berbagai pemikiran tentang ilmu pengetahuan berkembang.

Perkembangan pemikiran ini tidak saja dalam bidang ilmu agama, tetapi juga dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan umum lainnya. Semangat para fuqaha melakukan ijtihad dalam periode ini juga mengawali munculnya mazhab-mazhab fiqh, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Periode keemasan ini juga ditandai dengan dimulainya penyusunan kitab fiqh dan usul fiqh. Diantara kitab fiqh yang paling awal disusun pada periode ini adalah al-Muwaththa’ oleh Imam Malik, al-Umm oleh Imam asy-Syafi’i, dan Zahir ar-Riwayah dan an-Nawadir oleh Imam asy-Syaibani. Kitab usul fiqh pertama yang muncul pada periode ini adalah ar-Risalah oleh Imam asy-Syafi’i.

Masing-masing menawarkan kerangka metodologi, teori dan kaidah-kaidah ijtihad yang menjadi pijakan mereka dalam menetapkan hukum. Metodologi, teori dan kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh para tokoh dan para Imam Mazhab ini, pada awalnya hanya bertujuan untuk memberikan jalan dan merupakan langkah-langkah atau upaya dalam memecahkan berbagai persoalan hukum yang dihadapi, baik dalam memahami nash al-Quran dan al-Hadis maupun kasus-kasus hukum yang tidak ditemukan jawabannya dalam nash.

Metodologi, teori dan kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh para imam mazhab tersebut terus berkembang dan diikuti oleh generasi selanjutnya dan ia tanpa disadari menjelma menjadi doktrin (anutan) untuk menggali hukum dari sumbernya. Dengan semakin mengakar dan melembaganya doktrin pemikiran hukum dimana antara satu dengan lainnya terdapat perbedaan yang khas, maka kemudian ia muncul sebagai aliran atau mazhab yang akhirnya menjadi pijakan oleh masing-masing pengikut mazhab dalam melakukan istinbat (penetapan) hukum.

Teori-teori pemikiran yang telah dirumuskan oleh masing-masing mazhab tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting artinya, karena menyangkut penciptaan pola kerja dan kerangka metodologi yang sistematis dalam usaha melakukan istinbat (penetapan) hukum. Penciptaan pola kerja dan kerangka metodologi inilah yang dalam pemikiran hukum Islam disebut dengan ushul fikih.

Mazhab adalah aliran pemikiran atau perspektif di bidang fiqh, yang kemudian menjadi komunitas dalam masyarakat Islam. Mazhab, bagaika aliran sungai dari mata air yang sama. Di tengah perjalanan bertemu dengan aliran sungai lain; yang juga bercabang dan beranting. Oleh karena itu, dalam realitas masyarakat Islam terdapat berbagai mazhab, seperti Ahlusunnah (Sunni), Syi’ah (Syi’i) dan Khawarij.

  1. 1.       Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah (80-150 H) lahir di Kufah (Irak) yang penduduknya merupakan masyarakat yang sudah banyak mengenal kebudayaan dan peradaban. Fuqaha daerah ini sering dihadapkan pada berbagai persoalan hidup berikut problematikanya yang beragam. Untuk mengatasinya, mereka “terpaksa” memakai ijtihad dan akal. Keadaan ini berbeda dengan Hijaz. Masayarakat daerah ini masih dalam suasana kehidupan sederhana, seperti keadaan pada masa Nabi SAW.

Untuk mengatasi masalah, para fuqaha’ cukup mengandalkan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ para sahabat.

Oleh karena itulah mereka tidak merasa perlu untuk berijtihad seperti Fuqaha’ Irak. Sebaliknya Imam Abu Hanifah menghadapai persoalan kemasyarakatan di Irak –daerah yang sarat dengan budaya dan peradaban, tetapi jauh dari pusat informasi hadist Nabi SAW “terpaksa” atau “selalu” menggunakan akal [rasionya].
Faktor lain yang mempengaruhi Imam Abu Hanifah adalah kajian awalnya pada Ilmu Kalam (teologi), kemudian fiqh berguru kepada Syekh Hammad bin Sulaiman, ahli hukum Kufah (wafat 120 H/ 738 M) dan pengalaman yang nyata sebagai pedagang kain sehingga ia memiliki pengalaman luas tentang perdagangan. Studi awal terhadap Ilmu Kalam, tentu saja membuat Imam Abu Hanifah mahir dalam menggunakan logika untuk mengatasi berbagai masalah fiqh. Oleh karena itu, julukan sebagai Imam Al-Qaailiin dari para pengikutnya diberikan kepada Imam Abu Hanifah. Imam yang mendasarkan logika kepada ra’yu, qiyas, dan istihsan.

  1. 2.       Imam Malik

Pola Pikir Dan Faktor Yang Mempengaruhi Imam Malik
Berbeda dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik (93-179 H) lahir di Madinah-yang dikenal sebagai “Daerah Hadist” dan tempat tinggal para sahabat Nabi SAW. Fuqaha’ disini lebih mengerti hadist dibanding dengan fuqaha’ lainnya, mislanya Irak. Madinah pun merupakan suatu tempat yang masih bernuansa kampung dan sederhana –suatu kehiduan yang menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Ijma’ Shahabat sudah cukup untuk dijadikan sebagai dasar acuan keputusan hukum. Disini, jelas, para Fuqaha tidak perlu lagi ijtihad dan rasio –karena Madinah sebagai “tempat asal dan dekat Mekah”. Atas hal ini, wajarlah kalau Imam Malik lebih cenderung menguasai hadist dan kurang menggunakan rasio dibanding Imam Abu Hanifah karena faktor sosial dan budaya masyarakat.

  1. 3.       Imam Asyafi’i

Situasi dan kondisi saat Imam Asy-Syafi’i (150-204 H) lahir dan hidup sangat jauh (karya ulama sudah banyak) berbeda dengan kedua imam sebelumnya. Pada masa Imam Syafii hidup, sudah banyak ahli fiqh, baik sebagai murid Imam Abu Hanifah atau Imam Malik sendiri masih hidup. Akumulasi berbagai pemikiran fiqh fuqaha’, baik dari Makkah, Madinah, Irak, Syam dan Mesir menjadikan Asy-Syafii memiliki wawasan yang luas tentang berbagai aliran pemikiran fiqh. Dalam pandangan penulis ini bisa disebut sebagai faktor pluralisme pemikiran yang mempengaruhi Imam Syafii.

Faktor geografis, faktor ini merupakan faktor secara alamiah negara Mesir tempat Asy-Syafii lahir. Mesir adalah daerah kaya dengan warisan budaya Yunani, Persia, Romawi dan Arab. Kondisi budaya yang kosmopolit ini tentu saja memberikan pengaruh besar terhadap pola pikir Imam Asy-Syafii. Hal itu terlihat dari kitabnya Ilmu Mantiq yang dipengaruhi oleh aliran Aristoteles.
Abu Zahrah mengatakan bahwa “Hampir semua ulama terkemuka yang hidup pada zaman Asy-Syafii pernah menjadi gurunya atau paling tidak berdiskusi dengan ulama tersebut”. Kurang lebih, jumlah guru Imam Asy-Syafii 19 fuqaha. Kondisi ini menjadikan bekal bagi Imam Syafii dalam membangun pemikiran fiqhnya. Ia dikenal sebagai imam yang moderat (tengah-tengah) sebagai sebuah sintesis dari pemikiran ahl ra’yu sebagai tesa dan pemikiran tradisionalis sebagai antitesis. Karena Imam Syafii menguasai dan mengetahui kekuatan dan kelemahan aliran ahl ra’yu (Hanafi) dan aliran hadits (Maliki).
Faktor sosial dan budaya ikut mempengaruhi terhadap pola pikir Imam Syafii dengan qaul qadim dan qaul jadid. Qaul qadim dibangun di Irak tahun 195 H, sebagaimana Sya’ban Muhammad Ismail menjelaskan bahwa pada tahun 195 H, Imam Syafii tinggal di Irak pada zaman pemerintahan Al-Amin. Di Irak, Imam Syafii banyak belajar kepada ulama Irak dan banyak mengambil pendapat ulama Irak yang termasuk ahl al ra’y. Di antara ulama Irak yang banyak mengambil pendapat Imam Syafii dan berhasil dipengaruhi olehnya: (a) Ahmad bin Hanbal; (b) Al-Karabisi; (c) Al-Za’rafani; dan (d) Abu Tsaur. Setelah tinggal di Irak, Asy-Syafii melakukan perjalanan ke beberapa daerah dan kemudian tinggal di Mesir. Di Mesir, ia bertemu dan berguru kepada ulama Mesir yang pada umunya adalah rekan Imam Malik. Imam Malik adalah penerus fiqh ulama Madinah atau ahl al hadits. Karena perjalanan intelektualnya tersebut, Imam Syafii mengubah beberapa pendapatnya yang kemudian disebut qaul jadid. Dengan demikian, qaul qadim adalah pendapat Imam Syafii yang bercorak ra’y, sedangkan qaul jadid adalah pendapatnya yang bercorak hadis.

 

  1. 4.       Imam Ibn Hambal

Pesatnya perkembangan zaman tidak membuat Imam Hambali (164-241 H) berpikir rasional, bahkan hasil rumusannya lebih ketat dan kaku dibanding Imam Maliki yang tradisional. Paling tidak, ada dua faktor yang menjadikan Imam Hanbali berpikir seperti itu; Faktor munculnya berbagai aliran. Pada masa ini, aliran Syi’ah, Khawarij, Qadariyah, Jahamiyah, dan Murjiah –semua aliran ini telah banyak keluar atau menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Misalnya, Mu’tazilah berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, suatu pendapat yang melanggar konsensus ulama pada saat itu. Faktor inilah yang menyebabkan Imam Hanbali mengajak kepada masyarakat dan berpegang teguh kepada hadis dan sunnah. Sikap ini berbeda dengan Imam Syafii yang melawan ijtihad rasional pada saat itu dengan memadukan hadis dan rasio. Sebaliknya, Imam Hanbali justru berpendapat bahwa ijtihad itu sendiri harus dilawan dengan kembali berpegang teguh kepada hadis dan sunnah.
Penyimpangan lain atau paling tidak, berbeda dengan mendasar antara orang-orang Syi’ah dengan Ahlu Sunnah tentang dasar-dasar hukum sebagaimana digambarkan oleh Muhammad Yusuf Musa, sebagai berikut:

“Pertama, Syi’ah menafsirkan Al-Qur’an secara sepihak dengan prinsip-prinsip Syi’ah dan tidak menyukai tafsiran orang lain dan tidak memegang hadis-hadis selain imam mereka; kedua, Syi’ah tidak menerima hadis-hadis, ushul atau cabang, kecuali sesuai dengan thariqat imam mereka karena derajat lebih tinggi; dan ketiga, Syi’ah tidak mempergunakan ijma’ dan ra’yu, karena imam mereka lebih ma’shum (terjaga dari salah) dan berpendapat bahwa sesungguhnya agama tidak diambil, kecuali dari Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah, dan perkataan para imam ma’shum (imam Syi’ah).

Faktor politik dan budaya. Ahmad bin Hanbal hidup pada periode pertengahan kekhalifahan Abbasiyah, ketika unsur Persia mendominasi unsur Arab. Pada periode ini sering kali timbul pergolakan, konflik, dan pertentangan yang berkisar pada soal kedudukan putra mahkota dan khilafat antara anak-anak khalifah dan saudara-saudaranya. Saat itu, aliran Mu’tazilah berkembang bahkan menjadi mazhab resmi negara pada pemerintahan Al-Makmun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq.

 

 

B.  Peranan Ushul Fiqh

Usul al-Fiqh memiliki kedudukan penting dalam struktur pengetahuan-keilmuan tentang Islam, khususnya yang berkaitan dengan hukum. Para ulama, baik secara eksplisit maupun implisit, menjadikan penguasaan Usul al-Fiqh sebagai salah satu syarat bagi seorang mujtahid.

Usul al-Fiqh bersamaan munculnya dengan Fiqh, meskipun dalam penyusunannya Fiqh dilakukan lebih dahulu dari Usul al-Fiqh. Sebenarnya keberadaan Fiqh harus didahului oleh Usul al-Fiqh, karena Usul al-Fiqh itu adalah ketentuan atau kaidah yang harus diikuti mujtahid pada waktu menghasilkan fiqhnya. Namun dalam perumusannya, Usul al-Fiqh datang belakangan.

Dalam pernyataan singkat itu, setidaknya ada dua peranan yang dimainkan oleh Usul al-Fiqh, yaitu:

  1. Ushul al-Fiqh sebagai Metode Ijtihad

Sebagai metode berijtihad, Usul al-Fiqh berperanan sebagai jalan yang menuntun seorang mujtahid dalam melakukan istimbat. Atau sebagai penjelasan jalan yang telah ditempuh oleh seorang mujtahid, sehingga orang-orang yang datang sesudahnya bisa memahami alasan mujtahid tersebut menempuh jalan tersebut.

  1. Ushul al-Fiqh sebagai Kaidah

Sebagai kaidah, Usul al-Fiqh memiliki peranan sebagai pengingat mujtahid dari kesalahan yang mungkin akan dilakukannya. Atau korektor atas kesalahan yang telah dilakukannya.

Tentu saja fungsi atau peranan Usul al-Fiqh ini amat membantu mujtahid dalam melaksanakan tugasnya. Bagaimana pun cerdasnya seorang mujtahid, ia adalah seorang manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan kapan saja. Nah, di sinilah peranan Usul al-Fiqh amat dirasakan oleh mujtahid itu, yaitu menghindari atau setidaknya meminimalisir kesalahan-kesalahan tersebut.

Ushul al-Fiqh bisa diibaratkan sebagai sebuah peta jalan atau rute yang menuntun seorang pengembara mencapai tujuannya. Boleh jadi, antara satu mujtahid dan mujtahid lain memiliki konten Usul al-Fiqh yang berbeda-beda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dalam kerangka maslahah manusia sebagai makhluk individu maupun sosial.

 

C. Ulama’ Ahl Alhadits dan Ahl Ar-Ra’yi

1.  Ulama’ Ahl Al-Hadits

Dalam masyarakat Islam terdapat kelompok orang yang metode pemahamannya terhadap ajaran wahyu amat terikat oleh informasi dari Nabi. Dengan kata lain, ajaran Islam itu diperoleh dari Al-Qur’an dan petujuk Nabi saja bukan yang lain. Disamping disebut as-Sunnah petunjuk Nabi juga disebut hadis, karena itu mereka itu mereka disebut ahl al-hadis.

Mulanya aliran ini timbul di Hijaz utamanya di Madinah karena penduduk Hijaz lebih banyak mengetahui hadis dan tradisi Rasul disbanding dengan penduduk di luar Hijaz. Hijaz adalah daerah yang perkembangan budayanya dalam pantauan Rasulullah hingga beliau wafat. Di Madinah sebagai ibu kota Islam beredar hadis Nabi yang jauh lebih banyak/lengkap disbanding dengan daerah lain mana pun, ulamanya pun sudah mapan dengan tradisi menyelesaikan masalah-masalah hukum dengan teks wahyu tidak lagi memerlukan memeras otak, sehingga pada masa itu Hijaz dikenal sebagai pusat hadis.

Di masa sahabat sumber hukum Islam adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi (al-Qur’an dan al-Hadis). Di masa tabi’in sumber itu ditambah dengan fatwa sahabat, menurut ulama ahl al-hadis apabila tidak memperoleh al-Qur’an dan hadis ketika menjawab persoalan hukum, mereka meninjau pendapat para sahabat. jika mereka tidak memperolehnya maka mereka berijtihad atau tidak memberi fatwa, mereka membenci ra’yi serta menghindari fatwa dan istinbath kecuali bila terpaksa dan program mereka yang utama adalah meriwayatkan hadis Rasulullah SAW.

Karakter mazhab ini terkait dengan nash – nash syara’ yang ada dalam al-Qur’an dan al-Hadist tidak melakukan ra’yu yang bersandar pada usaha akal semata. Argumentasi mereka bahwa syari’ah itu dari Allah, oleh sebab itu tidak layak menjadi arena percaturan hamba – hambanya, pendapat manusia bisa salah dan benar, sedangkan Al-Qur’an dan As-Sunah terlepas dari kesalahan.

Adapun ahl al-hadits berkembang di Madinah (Hijaz), dengan tokoh utama Malik bin Anas. Bagi Malik, sumber hukum utama ialah Qur’an, kedua: Sunnah Rasulullah, dan ketiga: tradisi ahli Madinah. Sementara itu dalam hal ijtihad Malik menggunakan qiyas, istishlah, istihsan, dan sadd al dzari’ah. Berkenaan dengan sumber ketiga itu, Malik dikenal sebagai tokoh utama ahl al-hadits, yang dikembangkan oleh tujuh fuqaha (al-fuqaha’ al-sab’ah). Mereka adalah Said bin Musayyib, Urwah bin Zubair, Qasim bin Muhammad, Kharijah bin Zaid, Abu Bakar bin Abd. Rahman bin Harits bin Hasyim, Sulaiman bin Yasar dan Ubaidillah binAbdullah bin Atabah bin Mas’ud. Dari ketujuh ulama itulah fiqh ahl Madinah tersebar.

Hal ini menunjukkan bahwa alirah fiqh Malik tradisionalis terdapat berbagai ungkapan berkenaan dengan tradisi ahli Madinah sebagai sumber hukum, diantaranya: al-amr ‘indana (suatu urusan yang berlaku di kalangan kami), wa huwa al amr al ladzilam yazal ‘alayh ahl al ‘ilm bibaladina (ini sesuatu yang senantiasa berlaku di kalangan ahli ilmu di negeri kami), wa ‘ala dzalika ra’y ahl al fiqh ‘indana (pendapat ahli fiqh di kalangan kami sesuai dengan hal itu), al sunnah ‘indana (tradisi di kalangan kami). Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa sejak awal fiqh telah memiliki muatan unsur lokal, dalam hal ini, fiqh Kufah (Iraqi), dan fiqh Madinah (Hijazi). Uraian di atas menunjukkan, bahwa konteks sosial dan budaya lokal merupakan latar belakang makro yang memiliki hubungan dengan penerapan metode ijtihad (istinbath al ahkam). Namun demikian, kedua aliran itu, juga aliran lainnya, memiliki keunikan masing-masing. Ketika masing-masing aliran memilki kohesifitas yang tinggi, muncul sikap etnosentris di kalangan para penganut dan pengikut, sehingga makna keunikan menjadi perbedaan pendapat fuqaha (ikhtilaf al fuqaha), bahkan sering diartikan sebagai perselisihan pendapat. Sikap etnosentrisme itu, mengukur kebenaran pendapat aliran lain dengan ukuran pendapat aliran sendiri. Sikap itu berimplikasi kepada tindakan dalam memutuskan hukum. Apa yang dikemukakan oleh al Mawardi bahwa terdapat sebagian fuqaha yang melarang penganut aliran tertentu untuk memutus perkara dengan menggunakan aliran lain. Larangan bagi penganut mazhab Syafii memutuskan perkara dengan menggunakan pendapat Abu Hanifah. Demikian pula sebaliknya, larangan bagi penganut mazhab Hanafi untuk memutuskan perkara menurut mazhab Syafii.
Dari kenyataan adanya mazhab yang berbeda-beda, timbul pertanyaan “apa yang membedakan antara satu mazhab dengan mazhab yang lain?”. Ada anggapan bahwa perbedaan tersebut disebabkan adanya perbedaan metodologi atau manhaj. Anggapan ini sangat umum, sehingga hampir semua pemikir berpendapat demikian. Dalam pembahasan tataran praktis, uraian mengenai perbedaan itu sering menfokus pada hal yang lebih mengecil lagi, yaitu adanya perbedaan menentukan dalil (dasar) ijtihad dalam menyelesaiakan setiap kasus atau persoalan. Artinya mazhab yang satu berbeda dengan mazhab yang lainnya, karena adanya perbedaan metodologi ini. Demikian pula dapat dikatakan bahwa seorang ulama atau bahkan mujtahid masih tetap dapat dikategorikan sebagai pengikut mazhab Al-Syafi’i, karena mengikuti metodologi yang dilakukan oleh imam Al-Syafi’i dalam setiap menentukan hukum Islam. Ciri utamanya adalah sebagai berkut: mazhab Hanafi memiliki ciri khas penggunaan istihsan sebagai salah satu sumber hukum Islam dan sangat terkenal dengan menggunakan ra’yi (akal), sehingga mendapatkan label ahl ra’yi. Mazhab Maliki mempunyai mashlahah sebagai salah satu sumber hukum Islam, dan sangat mengedepankan praktik masyarakat Madinah (‘amal ahl al-madinah). Mazhab al-Syafi’i menekankan pada qiyas dan ditambah lagi istishhab (menggunakan ketentuan yang telah ada sebelum ada ketentuan berikutnya) dengan secara terang-teranngan menolak istihsan dan tidak pernah menyinggung mashlahah. Sedangkan mazhab Hanbali sangat sedikit menggunakan qiyas dan dapat menggunakan ijma’ hanya ijma’ sahabat. Mazhab Hanbali ini dikenal sebagai mazhab yang sangat ketat untuk berpegang pada nash (Qur’an dan Hadits/Sunnah), sehingga mendapatkan predikat ahl al-hadits yang paling ketat.

 

2.  Ulama’ Ahl Al-Ra’yi

Istilah ahl al-ra’yi digunakan untuk menyebut kelompok pemikir hukum Islam yang memberi porsi akal lebih banyak disbanding dengan pemikir lainnya. Bila kelompok lain dalam menjawab persoalan hukum tampak terikat oleh teks nas (al-Qur’an dan al-Hadis) , maka kelompok ahl al-ra’yi tampak tidak terikat, leluasa menggunakan pendapat akal.

Sebenarnya ahl al-ra’yi bukan berarti kelompok yang meninggalkan hadis. mereka juga menggunakan hadis sebagai dasar penetapan hukum, hanya mereka dalam melihat kasus penetapan hukum berpendapat bahwa nas syar’I mempunyai tujuan tertentu dan nas syar’I secara kumulatif bertujuan mendatangkan maslahat manusia (mashalih al-ibad). Karena banyaknya persoalan yang mereka hadapi dan terbatasnya jumlah nas maka mereka berupaya memikirkan rahasia yang terkandung di balik nas dikenal dengan ta’lil al-ahkam. Sedangkan ahl al-hadis lebih memperhatikan penguasaan hafalan nas dan mengamalkan sesuatu sesuai bunyi nas itu.

Madzhab ini disebut ahli ra’yu karena cenderung mereka banyak menggunakan ra’yu dalam menetapkan hukum. Mereka memiliki pandangan tersendiri terhadap syari’ah islam. Mereka memandangnya sebagai syariat – syariatnya bias masuk akal dan pokok – pokoknya kokoh, bukan syariat baku yang tidak diketahui sasarannya.

Ahl al-ra’y berkembang di Kufah (Irak), dengan tokoh utama Abu Hanifah. Bagi Abu Hanifah sumber hukum utama yang dijadikan rujukan ialah Kitabullah (Qur’an), kemudian Sunnah Rasulullah setelah melalui seleksi yang ketat, dan ketiga fatwa sahabat. Dalam hal ijtihad digunakan ijma’, qiyas, istihsan dan ‘urf.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s