pengertian ushul fiqh

Mengetahui kaidah-kaidah umum ( kulli ) yang dapat digunakan untuk menetapkan (istinbat) hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliah melalui dalil-dalil yang terperinci.

Untuk mengetahui arti Ushul fiqh harus diketahui arti “USHUL” dan “FIQH”, secara etimilogis Ushul fiqh terdiri atas dua kata yaitu al-Usul dan al-Fiqh. Kedua kata ini memiliki pengertian yang sangat luas. Al-Usul adalah jamak dari al-Asl yang mengandung arti fondasi sesuatu, baik bersifat materi ataupun non materi.

Secara termonologi, al-asl mempunyai beberapa pengertian sebagai berikut :

1. Dalil , hal ini seperti terdapat dalam ungkapan ulama’ Usul Fiqh “Dasar dari wajibnya sholat adalah firman Allah Swt dan Sunnah Nabi Saw” artinya yang menjadi dalil wajibnya sholat adalah Al-qur’an dan sunnah Nabi Saw.

2. Kaidah , contohnya sabda Rosululloh Saw “islam itu didirikan atas lima ushul ( kaidah ).

3. Ar-rojih ( yang terkuat ), seperti ungkapan para ahli ushul “Asal bagi kias adalah Al-qur’an” artinya Al-qur’an itu lebih kuat dari kias.

4. Al-far’ ( cabang ), contohnya ungkapan para ahli Ushul Fiqh “Anak adalah cabang dari ayah”.

5. al-Mustashab ( memberlakukan hukum yang ada sejak semula, selama tidak ada dalil yang mengubahnya ). Misalnya, seorang yang telah berwudhu’ meragukan apakah ia masih suci atau sudah batal wudhu’nya. Tetapi ia merasa yakin betul belum melakukan sesuatu yang membatalkan wudhu, atas dasar keyakinan ini, ia tetap dianggap suci ( masih berwudhu’ ).

Kata al-Fiqh secara etimilogis berarti pemahaman secara mendalam yang membutuhkan pengerahan potensi akal. Pengertian seperti ini dapat ditemukan dalam surah Thaha ayat 20, an-Nisa’ ayat 78 dan Hud ayat 91. Fiqh menurut Imam Syafi’ie adalah mengetahui hukum syarak yang bersifat ‘amali ( amalan ) yang diperoleh melalui dalil-dalilnya yang terperinci.

Ushul ialah sumber atau dalil. Fiqh ialah mengetahui hukum-hukum syarak tentang perbuatan orang mukallaf, seperti hukum wajib, haram, mubah, sah atau tidaknya sesuatu perbuatan dan lain-lain. Orang yang mengetahui hukum-hukum itu disebut faqih.

Hukum-hukum tersebut ada sumbernya ( dalilnya ) yaitu al-Qur’an, hadist, ijma’, qiyas. Maka yang dimaksud dengan ” Ushul Fiqh ” ialah sumber-sumber (dalil-dalil ) tersebut dan bagaimana cara menunjukkannya kepada sesuatu hukum secara ijmal ( garis besar ).

Karena itu, Ushul fiqh tidak membicarakan satu persatu persoalan, tetapi hanya membicarakan dalil-dalilnya saja, apa syarat sahnya dalil-dalil tersebut dan bagaimana bentuk ( sighat ) perkataan itu, mafhumnya, salurannya dan apa yang dapat difikirkan dari kata-kata itu ( qiyas ).

Menurut jumhur ulama, ushul fiqh merupakan ilmu tentang cara menggunakan kaidah-kaidah umum ushul fiqh ( kaidah ushul fiqh ) seperti al-Amr li al-wujud ( perintah itu mengandung kewjiban ) atau an-nahy li at-tahrim. Dari kaidah-kaidah umum ini terkandung hukum-hukum terperinci yang tidak terhitung jumlahnya. Menurut mereka, ahli ushul fiqh tidak mempersoalkan dalil dan kandungannya secara terperinci, melainkan membahas dalil-dalil kulli dan kandungannya sehingga dapat ditetapkan kaidah-kaidah kulli. Misalnya al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW dapat menetapkan kaidah-kaidah kulli diperlukan keahlian khusus. Karenanya pembahasan tentang mujtahid secara otomatis sudah termasuk dalam definisi tersebut.

Menurut ulama mazhab syafi’ie, ushul fiqh merupakan upaya untuk mengetahui dalil-dalil fiqh secara ijmal ( global ) dan cara menggunakannya, serta mengetahui keadaan oaring yang menggunakannya ( mujtahid ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s