AL HAKIM DALAM HUKUM SYARA’

Allah menciptakan makhluk dengan tujuan agar mereka beribadah kepadaNya semata. Ia mengutus para rasulNya untuk mengajar manusia, lalu menurunkan kitab-kitab kepada mereka, sehingga bisa memberikan hukum (putusan) yang benar dan adil di antara manusia. Hukum tersebut tercermin dalam firman Allah Ta’ala, dan dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Hukum-hukum itu mengandung berbagai masalah. Di antaranya ibadah, mu’amalah (pergaulan antar manusia), aqa’id (kepercayaan), tasyri’ (penetapan syari’at), siyasah (politik) dan berbagai permasalahan manusia lainnya.

 

  1. A.            HUKUM SYAR’I
    1. Makna Hukum Syar’i

Hukum syar’i menurut para ahli ushul fiqih adalah khithob syar’i yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf baik bersifat iqtidlo’ / tuntunan, takhyir / membolehkan atau wadl’iy / menetapkan.

  1. Kithob Allah yaitu firman Allah secara langsung yaitu al-qur’an. atau dengan perantaraan yaitu segala hal yang kembali pada kalamNya baik berupa sunnah, ijma’, dan semua dalil-dalil syar’iyyah yang digariskan oleh syari’ untuk diketahui hukumnya.
  2. Iqtidlo’ yaitu tuntutan baik itu menuntut untuk melakukan atau meninggalkan, baik itu melalui jalan ilzam atau tarjih.
  3. Takhyir yaitu menyamakan antara melakukan sesuatu atau meninggalkan-nya tanpa mentarjih salah satunya atau membolehkan kedua hal tersebut dari seorang mukallaf.
  4. Wadl’iy adalah Menetapkan sesuatu sebagai sebab yang lain atau syarat yang lain atau mani’ yang lain.

 

  1. Contoh Hukum Syar’i
  2. Firman Allah surat Al Maidah : 1

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qèù÷rr& ϊqà)ãèø9$$Î/ 4 ôM¯=Ïmé& Nä3s9 èpyJŠÍku5 ÉO»yè÷RF{$# žwÎ) $tB 4‘n=÷FムöNä3ø‹n=tæ uŽöxî ’Ìj?ÏtèC ωøŠ¢Á9$# öNçFRr&ur îPããm 3 ¨bÎ) ©!$# ãNä3øts† $tB ߉ƒÌãƒ ÇÊÈ  

Hukum syar’iy karena khithob Allah tersebut berkaitan dengan menepati janji sebagai tuntutan untuk melakukannya.

 

  1. Firman Allah surat al Hujurat : 11

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw öy‚ó¡o„ ×Pöqs% `ÏiB BQöqs% #Ó|¤tã br& (#qçRqä3tƒ #ZŽöyz öNåk÷]ÏiB Ÿwur Öä!$|¡ÎS `ÏiB >ä!$|¡ÎpS #Ó|¤tã br& £`ä3tƒ #ZŽöyz £`åk÷]ÏiB ( Ÿwur (#ÿrâ“ÏJù=s? ö/ä3|¡àÿRr& Ÿwur (#râ“t/$uZs? É=»s)ø9F{$$Î/ ( }§ø©Î/ ãLôœew$# ä-qÝ¡àÿø9$# y‰÷èt/ Ç`»yJƒM}$# 4 `tBur öN©9 ó=çGtƒ y7Í´¯»s9’ré’sù ãNèd tbqçHÍ>»©à9$# ÇÊÊÈ  

Hukum syar’iy karena khithob Allah tesebut berkaitan dengan menghina yang harus ditinggalkan.

 

  1. Firman Allah. surat al Maidah : 2

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#q=ÏtéB uŽÈµ¯»yèx© «!$# Ÿwur tök¤¶9$# tP#tptø:$# Ÿwur y“ô‰olù;$# Ÿwur y‰Í´¯»n=s)ø9$# Iwur tûüÏiB!#uä |MøŠt7ø9$# tP#tptø:$# tbqäótGö6tƒ WxôÒsù `ÏiB öNÍkÍh5§‘ $ZRºuqôÊ͑ur 4 #sŒÎ)ur ÷Läêù=n=ym (#rߊ$sÜô¹$$sù 4 Ÿwur öNä3¨ZtB̍øgs† ãb$t«oYx© BQöqs% br& öNà2r‘‰|¹ Ç`tã ωÉfó¡yJø9$# ÏQ#tptø:$# br& (#r߉tG÷ès? ¢ (#qçRur$yès?ur ’n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3“uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? ’n?tã ÉOøOM}$# Èbºurô‰ãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ  

Hukum syar’iy karena khithob Allah tesebut berkaitan dengan berburu sebagai hal yang dibolehkan untuk dilakukan atau ditinggalkan

 

  1. Firman Allah surat Al Imron : 97

ÏmŠÏù 7M»tƒ#uä ×M»uZÉit/ ãP$s)¨B zOŠÏdºtö/Î) ( `tBur ¼ã&s#yzyŠ tb%x. $YYÏB#uä 3 ¬!ur ’n?tã Ĩ$¨Z9$# kÏm ÏMøt7ø9$# Ç`tB tí$sÜtGó™$# Ïmø‹s9Î) Wx‹Î6y™ 4 `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî Ç`tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÒÐÈ  

Hukum syar’iy karena khithob Allah tersebut berkaitan dengan kewajiban haji bagi orang mukallaf yang mampu melaksanakannya.

 

  1. Firman Allah surat Al Maidah : 38

ä-͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ  

Hukum syar’iy karena khithob Allah tersebut berkaitan dengan perbuatan mencuri yang harus dipotong tangannnya. Baik itu pencuri laki-laki ataupun perempuan.

 

  1. Sabda Nabi Muhammad saw : “Pena itu telah diangkat dari hak kelakuan tiga macam : 1. dari orang yang sedang tidur nyenyak hingga ia bangun, 2 dari anak sehingga ia dewasa 3. dari orang gila sehingga ia sembuh kembali”.

 

Hukum syar’iy dalam sabda nabi saw tersebut berkaitan dengan ditetapkannya tidur, anak kecil, dan gila sebagai hal yang mencegah dikenai beban atau taklif.

 

 

  1. Macam-macam hukum syar’iy

Hukum syar’iy menurut ulama ushul fiqih dibagi atas dua macam yaitu hukum taklifi dan hukum wadl’iy. Keterangan masing-masing keduanya, sebagai berikut :

  1. HukumTaklifi

Pengertian

Adalah Segala sesuatu yang menghendaki tuntutan untuk menger-jakan, meninggalkan, atau pilihan antara keduanya.

Disebut hukum taklifi karena pengenaan beban pada orang mukallaf baik itu melakukan atau mencegah perbuatan maupun kebolehan antara melakukan atau mencegah perbuatan itu.

 

Contoh-contoh hukum taklifi

Firman Allah yang menuntut orang mukallaf untuk melakukan suatu perbuatan.

õ‹è{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y‰|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.t“è?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgø‹n=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y™ öNçl°; 3 ª!$#ur ìì‹ÏJy™ íOŠÎ=tæ ÇÊÉÌÈ  

(Surat at taubah : 103)

 

Dan firman Allah

ÏmŠÏù 7M»tƒ#uä ×M»uZÉit/ ãP$s)¨B zOŠÏdºtö/Î) ( `tBur ¼ã&s#yzyŠ tb%x. $YYÏB#uä 3 ¬!ur ’n?tã Ĩ$¨Z9$# kÏm ÏMøt7ø9$# Ç`tB tí$sÜtGó™$# Ïmø‹s9Î) Wx‹Î6y™ 4 `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî Ç`tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÒÐÈ  

(Surat Ali Imron 97)

 

  1. HUKUM WADH’I

Hukum Wadh’i adalah : Suatu ketetapanyang menghendaki sesua`tu menjadi sebab yang lain atau menjadi Syarat atau penghalang bagi sesuatu yang lain,

Contoh :

–    Sesuatu yang menjadi sebab yang lain seperti firman alllah ‘Dan pencuri laki laki dan pencuri perempuan maa potonglah kedoa tanganya,

ä-͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ  

(Q.S.Al maidah 38)

ayat ini menetapkan bahwa pencurian menjjadi sebab di wajibkanya memotong tangan.

Dan firman Allah’Pezina Permpuan dan laki laki,jilidlah  dari keduanya  dengan 100 jilidan.

“Ï%©!$# ¼çms9 à7ù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur óOs9ur õ‹Ï‚­Gtƒ #Y‰s9ur öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! Ô7ƒÎŽŸ° ’Îû Å7ù=ßJø9$# t,n=yzur ¨@à2 &äóÓx« ¼çnu‘£‰s)sù #\ƒÏ‰ø)s? ÇËÈ  

(Q.S Annur 2)

ayat ini menetapkan perzinahan menjadi sebab diwajibkanya hokum jilid.dan juga sebagian dari beberapa nas yang menetapkan sebab menjadikan adanya musabab.

 

–    Sesuatu yang menetapkan sesuatu menjadi syarat lain.spt sabda nabi ‘Tidak sah nikah kecuali dengan kehadiran Wali dan dua saksi.

Hadits ini menetapkan Hadirnya seorang Wali dan dua orang saksi menjadi Syarat sahnya nikah. Dan sabda nabi ‘Allah tdk akan menerima sholat Tanpa dalam keadaan suci / berwudlu. Hadits ini menetapkan bersuci menjadi syarat sahnya sholat ,dan beberapa nash yang menunjukkan/menjadikanyan sesuatu menjadi syarat sesuatu yang lain.

 

–    Sesuatu yang menetapkan sesuatu menjadi penghalang bagi sesuatu yang lain,spt hadits nabi SAW’Tidak sah sholatnya orang yang tidak membaca surat Alfatihah’Hadits ini menetapkan tidak membaca fatehah menjadin penghalang sahnya sholat.dan hadits hadits  lain yang menunjukkan menjadikanya sesuatu menjadi penghalang sesuatu yang lain

 

B.  HAKIM

B. AL HAKIM

  1. ARTI AL HAKIM

Al Hakim adalah orang yang mengeluarkan hukum. Dia adalah Allah, maksudnya Dialah sebagai sumber hukum. Allah adalah Dzat          Yang menyuruh, melarang, mewajibkan, mengharamkan, memberi pahala atau siksa. Dengan demikian Al Hakim adalah Allah. Tidak ada hukum kecuali apa yang diputuskanNya. Tidak ada syariat kecuali apa yang disyariatkanNya. Hal ini didasarkan pada Al-Qur’an dan Ijma’ kaum muslimin.

Firman Allah dalam Al Qur’an :

 

  1. a.  

ö@è% ’ÎoTÎ) 4’n?tã 7puZÉit/ `ÏiB ’În1§‘ OçFö/¤‹Ÿ2ur ¾ÏmÎ/ 4 $tB ”ωZÏã $tB šcqè=ÉÚ÷ètGó¡n@ ÿ¾ÏmÎ/ 4 ÈbÎ) ãNõ3ßÛø9$# žwÎ) ¬! ( Èà)tƒ ¨,ysø9$# ( uqèdur çŽöyz tû,Î#ÅÁ»xÿø9$# ÇÎÐÈ  

Artinya : “Menetapkan Hukum itu hanyalah hak Allah” (Al-an’am : 57)

 

  1. b.  
  • §NèO (#ÿr–Šâ‘ ’n<Î) «!$# ãNßg9s9öqtB Èd,ysø9$# 4 Ÿwr& ã&s! ãNõ3çtø:$# uqèdur äíuŽó r& tûüÎ7Å¡»ptø:$# ÇÏËÈ  

Artinya : “Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaanNya” (Al An’am : 62 )

 

Berdasarkan pernyataan di atas, tidak ada kekuasaan mengeluarkan hukum selain AIIah. tugas rasul hanyalah menyampaikan hukum-hukum Allah. Tugas para mujtahid hanyalah mengetahui hukum-hukum ini dan mengungkap-kannya dengan metode-metode dan kaidah yang diletakkan ilmu ushul fiqlh.

Oleh karena itu mereka bersepakat tentang pengertian hukum syar’iy adalah khitob/firman Allah SWT yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf baik yang bersifat tholaby / tuntutan, takhyiry / pilihan atau wadl’iy / menjadikan.

 

  1. METODE MENGETAHUI HUKUM ALLAH

Menurut ijma’ bahwa Al Hakim adalah Allah. Tetapi para ulama berbeda pendapat tentang masalah penting yang berhubungan dengan metode mengetahui hukum-hukum Allah, yaitu Apakah hukum-hukum Allah hanya diketahui dengan perantaraan rasul-­rasulNya dan kitab-kitanNya atau mungkinkah akal mampu mengetahuinya tanpa perantaraan rasul-rasulNya dan kitab-kitabNya ?

(1)     Madzhab Asy’ariyah

Golongan asy’ariyah (Abu Hasan al Asy’ary) berpendapat bahwa hukum-hukum Allah tentang perbuatan orang mukallaf tidak mungkin diketahui kecuali dengan peran-taraan rasul-rasulNya dan kitab-kitabNya. Karena akal jelas membeda-bedakan perbuatan, adakalnya akal menilai baik suatu perbuatan dan kadangkala menilai buruk suatu perbuatan.

(2)     Madzhab Mu’tazilah

Golongan mukazilah (Washil Ibn Atha’) berpendapat bahwa hukum-hukum Allah tentang perbuatan orang mukallaf dapat diketahui dengan akal tanpa perantaraan rasul-rasulNya dan kitab-­kitabNya, karena dalam setiap perbuatan orang mukallaf terdapat sifat dan pengaruh yang berbahaya maupun yang bermanfaat, sehingga akal mampu menjelaskan sifat-sifat perbuatan dan pengaruhnya yang baik atau buruk. Hukum Allah atas perbuatan-perbuatan itu menurut penemuan akal baik dari segi manfaat atau bahayanya.

Adapun pendapat yang kuat dan terpilih dalam masalah ini adalah pendapat golongan asy’ariyah bahwa hukum-hukum Allah hanya dapat diketahui dengan perantaraan rasul-rasulNya dan kitab-kitabnya,karena akal membeda-bedakan perbuatan, adakalnya akal menilai baik dan adakalanya menilai buruk sebagaimana keterangan yang sudah lewat.

Disamping itu, Sesungguhnya perbuatan mukallaf yang baik adalah perbuatan yang ditunjukkan oleh syar’i bahwa perbuatan itu diperbolehkan atau dituntut untuk mengerjakannya, Sedangkan perbuatan mukallaf yang buruk adalah perbuatan yang ditunjukkan oleh Syari’ sebagai hal yang buruk dan disurug untuk ditinggalkan. Oleh karena itu ukuran baik dan buruk adalah syari’ bukan akal.

Dengan demikian maka tidak ada hukum bagi Allah tentang perbuatan hamba sebelum diutus para rasul dan sebelum datangnya dakwah, Oleh karena itu, tidak ada hukum maka tidak ada beban, tidak ada beban maka tidak ada pahala dan siksa.

Firman Allah SWT :

Ç`¨B 3“y‰tF÷d$# $yJ¯RÎ*sù “ωtGöku‰ ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur ¨@|Ê $yJ¯RÎ*sù ‘@ÅÒtƒ $pköŽn=tæ 4 Ÿwur â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 3“t÷zé& 3 $tBur $¨Zä. tûüÎ/Éj‹yèãB 4Ó®Lym y]yèö6tR Zwqߙu‘ ÇÊÎÈ  

Artinya : “Sekali-kali tidak memaksa sehingga kami mengutus seorang utusan ” (Al Isra’: 15)

 

 

  1. KEDUDUKAN HAKIM DALAM HUKUM ISLAM

Kedudukan al hakim dalam hal ini adalah Allah SWT adalah sebagai pembuat sekaligus yang  menetapkan hukum untuk dipatuhi oleh setiap mukallaf (mahkum alaih).

Mahkum Alaih adalah orang-orang mukallaf, yaitu orang-orang muslim yang sudah dewasa dan berakal dengan syarat ia mengerti apa yang akan dilakukan sebagai tugas dan tanggung jawabnya. Berarti mereka sebagai pelaku perbuatan yang berkaitan dengan hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s