Di dalam agama Islam terdapat banyak hukum sebagai pengatur kehidupan manusia sekaligus sebagai pedoman dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT. Sumber hukum tersebut ada yang berasal dari Al-Qura’an, Hadis maupun sumber yang lain yang berasal dari pendapat-pendapat para ulama yang dinamakan dengan ijtihad.

Di masa Rasulullah saw hidup, umat Islam tidak memerlukan kaidah-kaidah tertentu dalam memahami hukum-hukum syar’i, semua permasalahan yang ada saat itu dapat langsung merujuk kepada Rasulullah saw, melalui penjelasan beliau terhadap interpretasi al-Qur’an, atau melalui sunnahnya.  Tetapi dalam perkembangan berikutnya setelah Rasulullah wafat umat Islam kesulitan untuk mendapatkan hukum terhadap semua persoalan yang belum ada dalam Alqur’an maupun Alhadits. Sehingga disinilah dibutuhkan salah satu ilmu yaitu fiqih dan Ushul fiqih.

  1. Pengertian Ushul Fiqih dan Fiqih

Kata Ushul fiqih (الفقه أصول) berasal dari bahas Arab  yaitu “ushul” dan “fiqh” yang secara etimologi (bahasa) mempunyai arti “faham yang mendalam”. Menurut Amir Syarifudin ushul fiqih adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang membawa kepada usaha merumuskan hukum-hukum syara’ dari dalil-dalinya yang terperinci.

Abdul Wahab Khalaf memberikan definisi bahwa ushul fiqh adalah pengetahuan tentang kaidah dan pembahasannya yang digunakan untuk menetapkan hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan manusia dari dalil-dalilnya yang terperinci.

Al-Ghazali mena’rifkan ushul fiqh sebagai ilmu yang membahas tentang dalil-dalil hukum syara’ dan bentuk-bentuk penunjukan dalil terhadap hukum syara’.

As-Syaukani mendefinisikan ushul fiqh sebagai ilmu untuk mengetahui kaidah-kaidah, yang mana kaidah tersebut bisa digunakan untuk mengeluarkan hukum syara’ berupa hukum cabang (furu’) dari dalil-dalilnya yang terperinci.

Sementara Syafi’iy mendefinisikan ushul fiqh adalah mengetahui dalil-dalil fiqh secara global dan cara menggunakannya, serta mengetahui keadaan orang yang menggunakannya.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Ilmu Ushul Fiqh adalah kaidah-kaidah yang digunakan dalam usaha untuk memperoleh hukum-hukum syara’ tentang perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci. Dan usaha untuk memperoleh hukum-hukum tersebut, antara lain dilakukan dengan jalan ijtihad

Sementara Fiqh menurut bahasa, berarti paham atau tahu. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Sayyid al-Jurjaniy, pengertian fiqh yaitu :

 “Ilmu tentang hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.”
Yang dimaksud dengan dalil-dalilnya yang terperinci, ialah bahwa satu persatu dalil menunjuk kepada suatu hukum tertentu, seperti firman Allah menunjukkan kepada kewajiban shalat. Jadi fiqih  adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Allah SWT.

Fiqh merupakan salah satu disiplin ilmu Islam yang bisa menjadi teropong keindahan dan kesempurnaan Islam. Dinamika pendapat yang terjadi diantara para fuqoha menunjukkan betapa Islam memberikan kelapangan terhadap akal untuk kreativitas dan berijtihad. Sebagaimana qaidah-qaidah fiqh dan prinsif-prinsif Syari’ah yang bertujuan untuk menjaga kelestarian lima aksioma, yakni; Agama, akal, jiwa, harta dan keturunan menunjukkan betapa ajaran ini memiliki filosofi dan tujuan yang jelas, sehingga layak untuk exis sampai akhir zaman.

Adapun perbedaan antara Ushul Fiqih dan Fiqih adalah kalau Ushul Fiqih itu Kaidah-kaidah atau ketentuan-ketentuan yang menjadi dasar untuk memahami dan mengeluarkan hukum dari al-Qur’an atau dari Hadits terhadap perbuatan mukallaf. Sedang Fiqih adalah segala hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan orang-orang mukallaf dengan dalil tafshili.

Artinya para Ulama’ atau Ahli Fiqih tidak mungkin menetapkan hukum-hukum syara’ melainkan pertama-tama telah mengetahui kaidah-kaidah Ushul Fiqih yang dijadikan dasar untuk mengeluarkan/ menetapkan hukum syariat Islam tersebut.

 

  1. Obyek atau Ruang lingkup Pembahasan Ushul Fiqh dan Fiqih

 

Ruang lingkup atau obyek pembahasan ilmu Ushul Fiqih secara garis besar adalah dalil-dalil syara’ yang bersifat umum ditinjau dari ketetapannya terhadap hukum syara’ yang umum pula.

Maka pangkal pembahasannya adalah membahas kaidah-kaidah qiyas (menyamakan hukum sesuatu yang berkekuatan hukum pasti kepada sesuatu lain yang sudah memiliki hukum secara jelas karena adanya atau mendekati kesamaan alasan/qarinah); membahas kaidah/ dalil ’Am serta batasannya, perintah serta yang hal lain yang identik dengannya, dan sebagainya.

 

Apabila dikaji lebih dalam maka yang menjadi obyek pembahasan Ushul Fiqh meliputi :

  1. 1.    Pembahasan tentang dalil.

Pembahasan tentang dalil dalam ilmu Ushul Fiqh adalah secara global. Di sini dibahas tentang macam-macamnya, rukun atau syarat masing-masing dari macam-macam dalil itu, kekuatan dan tingkatan-tingkatannya. Jadi di dalam Ilmu Ushul Fiqh tidak dibahas satu persatu dalil bagi setiap perbuatan.

  1. 2.    Pembahasan tentang hukum

Pembahasan tentang hukum dalam Ilmu Ushul Fiqh adalah secara umum, tidak dibahas secara terperinci hukum bagi setiap perbuatan. Pembahasan tentang hukum ini, meliputi pembahasan tentang macam-macam hukum dan syarat-syaratnya. Yang menetapkan hukum (al-hakim), orang yang dibebani hukum (al-mahkum ‘alaih) dan syarat-syaratnya, ketetapan hukum (al-mahkum bih) dan macam-macamnya dan perbuatan-perbuatan yang ditetapi hukum (al-mahkum fih) serta syarat-syaratnya.

  1. 3.    Pembahasan tentang kaidah.

Pembahasan tentang kaidah yang digunakan sebagai jalan untuk memperoleh hukum dari dalil-dalilnya antara lain mengenai macam-macamnya, kehujjahannya dan hukum-hukum dalam mengamalkannya.

  1. 4.    Pembahasan tentang ijtihad

Dalam pembahasan ini, dibicarakan tentang macam-macamnya, syarat-syarat bagi orang yang boleh melakukan ijtihad, tingkatan-tingkatan orang dilihat dari kaca mata ijtihad dan hukum melakukan ijtihad.

 

Jadi yang menjadi topik dan ruang lingkup dalam pembahasan Ilmu Ushul Fiqh ini meliputi:

 

a.

Bentuk-bentuk dan macam-macam hukum, seperti hukum taklifi (wajib, sunnat, mubah, makruh, haram) dan hukum wadl’i (sabab, syarat, mani’, ‘illat, shah, batal, azimah dan rukhshah).

b.

Masalah perbuatan seseorang yang akan dikenal hukum (mahkum fihi) seperti apakah perbuatan itu sengaja atau tidak, dalam kemampuannya atau tidak, menyangkut hubungan dengan manusia atau Tuhan, apa dengan kemauan sendiri atau dipaksa, dan sebagainya.

c.

Pelaku suatu perbuatan yang akan dikenai hukum (mahkum ‘alaihi) apakah pelaku itu mukallaf atau tidak, apa sudah cukup syarat taklif padanya atau tidak, apakah orang itu ahliyah atau bukan, dan sebagainya.

d.

Keadaan atau sesuatu yang menghalangi berlakunya hukum ini meliputi keadaan yang disebabkan oleh usaha manusia, keadaan yang sudah terjadi tanpa usaha manusia yang pertama disebut awarid muktasabah, yang kedua disebut awarid samawiyah.

e.

Masalah istinbath dan istidlal meliputi makna zhahir nash, takwil dalalah lafazh, mantuq dan mafhum yang beraneka ragam, ‘am dan khas, muthlaq dan muqayyad, nasikh dan mansukh, dan sebagainya.

f.

Masalah ra’yu, ijtihad, ittiba’ dan taqlid; meliputi kedudukan rakyu dan batas-batas penggunannya, fungsi dan kedudukan ijtihad, syarat-syarat mujtahid, bahaya taqlid dan sebagainya.

g.

Masalah adillah syar’iyah, yang meliputi pembahasan Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’, qiyas, istihsan, istishlah, istishhab, mazhabus shahabi, al-‘urf, syar’u man qablana, bara’atul ashliyah, sadduz zari’ah, maqashidus syari’ah/ususus syari’ah.

h.

Masa’ah rakyu dan qiyas; meliputi. ashal, far’u, illat, masalikul illat, al-washful munasib, as-sabru wat taqsim, tanqihul manath, ad-dauran, as-syabhu, ilghaul fariq; dan selanjutnya dibicarakan masalah ta’arudl wat tarjih dengan berbagai bentuk dan penyelesaiannya.

 

  1. Tujuan ushul fiqih

Ushul Fiqh itu ialah suatu ilmu yang sangat berguna dalam pengembangan pelaksanaan syari’at (ajaran Islam). Dengan mempelajari Ushul Fiqh orang mengetahui bagaimana Hukum Fiqh itu diformulasikan dari sumbernya.

Dengan demikian orang akan terhindar dari taqlid buta; kalau tidak dapal menjadi Mujtahid, mereka dapat menjadi Muttabi’ yang baik, (Muttabi’ ialah orang yang mengikuti pendapat orang dengan mengetahui asal-usul pendapat itu). Dengan demikian, berarti bahwa Ilmu Ushul Fiqh merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam pengembangan dan pengamalan ajaran Islam di dunia yang sibuk dengan perubahan menuju modernisasi dan kemajuan dalam segala bidang.

Melihat demikian luasnya ruang lingkup materi Ilmu Ushul Fiqh, tentu saja tidak semua perguruan/lembaga dapat mempelajarinya secara keseluruhan.

Tujuan yang ingin dicapai dari ushul fiqh yaitu untuk dapat menerapkan kaidah-kaidah terhadap dalil-dali syara’ yang terperinci agar sampai pada hukum-hukum syara’ yang bersifat amali. Dengan ushul fiqh pula dapat dikeluarkan suatu hukum yang tidak memiliki aturan yang jelas atau bahkan tidak memiliki nash dengan cara qiyas, istihsan, istishhab dan berbagai metode pengambilan hukum yang lain. Selain itu dapat juga dijadikan sebagai pertimbangan tentang sebab terjadinya perbedaan madzhab diantara para Imam mujathid. Karena tidak mungkin kita hanya memahami tentang suatu hukum dari satu sudut pandang saja kecuali dengan mengetahui dalil hukum dan cara penjabaran hukum dari dalilnya.
Para ulama terdahulu telah berhasil merumuskan hukum syara’ dengan menggunakan metode-metode yang sudah ada dan terjabar secara terperinci dalam kitab-kitab fiqh. Kemudian apa kegunaan ilmu ushul fiqh bagi masyarakat yang datang kemudian?. Dalam hal ini ada dua maksud kegunaan, yaitu:

Pertama, apabila sudah mengetahui metode-metode ushul fiqh yang dirumuskan oleh ulama terdahulu, dan ternyata suatu ketika terdapat masalah-masalah baru yang tidak ditemukan dalam kitab terdahulu, maka dapat dicari jawaban hukum terhadap masalah baru itu dengan cara menerapkan kaidah-kaidah hasil rumusan ulama terdahulu.

Kedua, apabila menghadapi masalah hukum fiqh yang terurai dalam kitab fiqh, akan tetapi mengalami kesulitan dalam penerapannya karena ada perubahan yang terjadi dan ingin merumuskan hukum sesuai dengan tuntutan keadaan yang terjadi, maka usaha yang harus ditempuh adalah merumuskan kaidah yang baru yang memungkinkan timbulnya rumusan baru dalam fiqh. Kemudian untuk merumuskan kaidah baru tersebut haruslah diketahui secara baik cara-cara dan usaha ulama terdahulu dalam merumuskan kaidahnya yang semuanya dibahas dalam ilmu ushul fiqh.

 

Sehingga dengan Usul Fiqh maka:

Ilmu Agama Islam akan hidup dan berkembang mengikuti perkembangan peradaban umat manusia.

Statis dan jumud dalam ilmu pengetahuan agama dapat dihindarkan.

Orang dapat menghidangkan ilmu pengetahuan agama sebagai konsumsi umum dalam dunia pengetahuan yang selalu maju dan berkembang mengikuti kebutuhan hidup manusia sepanjang zaman.

Sekurang-kurangnya, orang dapat memahami mengapa para Mujtahid zaman dulu merumuskan Hukum Fiqh seperti yang kita lihat sekarang. Pedoman dan norma apa saja yang mereka gunakan dalam merumuskan hukum itu. Kalau mereka menemukan sesuatu peristiwa atau benda yang memerlukan penilaian atau hukum Agama Islam, apa yang mereka lakukan untuk menetapkannya; prosedur mana yang mereka tempuh dalam menetapkan hukumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan Akhir dari Ilmu Ushul Fiqih

Tujuan akhir yang dimaksud adalah untuk dapat menerapkan kaidah-kaidah Ushul Fiqih serta patokan-patokannya terhadap dalil-dalil syara’ yang terperinci/ tafshili sehingga dapat menetapkan hukum-hukum syara’ yang ditunjukannya. Maka dengan kaidah-kaidah dan pembahasannya akan dapat dipahami dalil-dalil syara’ dan mengetahui  pula hukum-hukumnya.

 

Manfaat mempelajari Ilmu Ushul fiqih

Bahwa manfaat dan kegunaan mempelajari ilmu-ilmu Ushul Fiqih akan mampu mengelompokkan hal-hal antara lain sebagai berikut:

  1. Mampu menerapkan kaidah-kaidah dan penelitiannya secara menyeluruh atas dalil-dalil yang terperinci untuk mencapai dalil-dalil syariat sebagai pedomannya.
  2. Mengetahui dasar-dasar yang dijadikan pedoman atas hukum-hukum syariat dan maksud-maksud yang akan dituju berdasar pada dasar tersebut.
  3. Mampu memunculkan hukum-hukum syariat melalui qiyas, istihsan (mengikuti yang lebih baik), mashalaihul mursalah (sesuatu yang dipandang baik oleh akal sehat karena mendatangkan kebaikan dan menghindarkan keburukan/ kerusakan bagi manusia, yang sejalan dengan tujuan syara’ dalam menetapkan hukum), istishab (mengukuhkan apa yang telah ada, selama tidak ada alasan/ mani’ baru atau dengan kata menggunakan kata ”pada prinsipnya”), atau dan sebagainya terhadap kejadian-kejadian terkini sehingga tidak diketemukan hukumnya sebagai dasar untuk memunculkan/ menetapkan hukum yang benar.
  4. Mengetahui para mujtahid olehnya menetapkan hukum, mengemukakan alasan pendapatnya, pandangan madzhabnya, olehnya mengunggulkan hukum daripada yang lain dengan kebenaran pandangannya yang didasari pada dalil-dalil yang dijadikan setiap pedoman pokoknya, dan memperluas hukum dari suatu dalil yang kemudian bisa diunggulkan agar menjadi kuat.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s